LAPORAN
PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI
OLEH:
AGUS PANJI VERDHA
FI B2 13 003
PROGRAM
STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2014
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatu
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidahyah-Nya, terutama
kesehatan dan kesempatan, sehingga saya dapat menyelesaikan “Laporan Lapangan Praktikum
Geomorfologi” sesuai waktu yang telah diberikan. Saya merasa pembuatan laporan
praktikum lapangan yang saya buat ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu
diharapkan kritik dan sarannya yang
dapat menjadi acuan pembuatan laporan praktikum dikemudin harinya.
Ucapan terimah kasih juga saya sampaikan kepada seluruh pihak yang
telah membantu,terutama kepada Bapak Drs. Firdaus, M.si selaku dosen mata
kuliah Geomorfologi dan ka’ Irfan Saputra yang telah membimbing kami sehingga
“Laporan Praktikum Lapangan Geomorfologi” ini dapat terselesaikan.
Laporan ini berisi semua hal-hal yang
kami lakukan di lapangan semoga bermanfaat bagi yang membacanya.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Kendari,
3 Oktober 2014
Penyusun
AGUS
PANJI VERDHA
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang................................................................................. 1
1.2 Tujuan............................................................................................... 2
1.3 Alat
dan Bahan................................................................................ 2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Geomorfologi................................................................................... 3
2.2 GPS.................................................................................................. 4
2.3 Waterpass......................................................................................... 8
2.4 Thedolite.......................................................................................... 13
BAB III PROSEDUR KERJA
3.1 Penggunaan
GPS.............................................................................. 16
3.2 Penggunaan
Waterpass..................................................................... 16
3.3 Penggunaan
Theodolite.................................................................... 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 GPS................................................................................................. 19
4.2 Waterpass........................................................................................ 21
4.3 Thedolite.......................................................................................... 22
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan....................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR
GAMBAR
Gambar 2.1
GPS ................................................................................................... 6
Gambar 2.2 Pesawat
waterpass.............................................................................. 9
Gambar 2.2.1 Kaki
Tiga………………………………………………………... 11
Gambar 2.2.2
Unting-unting................................................................................. 11
Gambar 2.2.3 Rambu ukur.................................................................................... 12
Gambar 2.3. Bagian bagian
Theodolite………………………………..…………14
Gamabar 4.1 Peta kontur hasil pengamatan
GPS ..……………………………...20
Gambar
4.1 Peta kontur hasil pengamatan GPS dalam bentuk 3D……………..20
DAFTAR
TABEL
Tabel 1.1 Alat dan Bahan...................................................................................... 2
Tabel
4.1 Data pengamatan GPS.......................................................................... 19
Tabel 4.2 Data
pengamatan Waterpass................................................................. 21
Tabel 4.3 data
peengamatan Theodolite................................................................ 22
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geomorfologi berasal dari
kata Yunani yang arti “Geo” adalah Bumi, “Morpho” adalah bentuk, serta
“logos” juga adalah ilmu, jadi igeomorfologi berartii lmu yang mempelajari
tentang bentuk bumi atau roman muka bumi. Dan ilmuan terus meneliti tetang
kejadian yang terjadi pada bumi ini,seperti gempa bumi, erosi, ledakan gunung berapi
atau pengangkatan atau juga penurunan suatu dataran terjadi dalam proses yang
sangat lama serta kejadian yang lain, yang berhubungan dengan bumi.
Dalampraktikum ini kita memakai alat-alat seperti GPS,
Waterpass dan Theodolit. Alat-alat ini banyak digunakan dalam Ilmu Ukur Tanah (Plane Surveying). Ilmu Ukur tanah dianggap
sebagai disiplin ilmu, teknik dan seni yang meliputi semua metoda untuk pengumpulan
dan pemrosesan informasi tentang permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi yang
menganggap bumi sebagai bidang datar, sehingga dapat ditentukan posisi titik-titik
di permukaan bumi. Dari titik yang telah didapatkan tersebut dapat disajikan dalam
bentuk peta.
Dalam praktikum Ilmu Ukur Tanah ini mahasiswa akan berlatih
melakukan pekerjaan-pekerjaan survey, dengan tujuan agar Ilmu Ukur Tanah yang
didapat dibangkukuliah dapat diterapkan di lapangan, dengan demikian diharapkan
mahasiswa dapat memahami dengan baik aspek diatas.
Dengan praktikum ini diharapkan dapat melatih mahasiswa melakukan
pemetaan situasi teritris. Hal ini ditempuh mengingat bahwa peta situasi pada umumnya
diperlukan untuk berbagai keperluan perencanaan teknis atau keperluan-keperluan
lainnya yang menggunakan peta sebagai acuan.
1.2
Tujuan
1. Memahami cara penggunaan GPS,
Waterpass dan Teodholit.
2.
Menetukan
titik Koordinat menggunakan GPS di Lapangan.
3. Menentukan perbedaan ketinggian permukaan
suatu bidang menggunakan Teodholit dan Waterpas
1.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan
bahan yan digunakan pada praktikum lapangan ini, yaitu dapat dilihat pada table
berikut beserta dengan fungsinya masin-masing adalah sebagai berikut :
|
No
|
Alat
dan Bahan
|
Kegunaan
|
|
1
|
Kompas Geologi
|
Untuk menentukan arah
sebelum pengukuran menggunakan Teodholit
|
|
2
|
Teodholit
|
Untuk menentukan perbedaan tinggi suatu bidang.
|
|
3
|
GPS
|
Untuk menentukan
posisi stasiun
|
|
4
|
Waterpass
|
Untuk menentukan
perbedaan suatu bidang
|
|
5
|
Pensil dan Pulpen
|
Untuk menulis hasil yang telah diamati
|
|
6
|
Lembar Pengamatan
|
tempat menulis hasil
yang telah diamati
|
|
7
|
Meteran
|
Untuk mengukur jarak
di lapangan dan mengukur tinggi alat
|
Tabel
1.1 Alat dan Bahan
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Geomorfologi
Indonesia merupakan suatu Negara yang berbentuk kepulauan.
Indonesia memanjang yang berbentuk linear dari Sabang di ujung barat hingga
Merauke di ujung timur. Jumlah pulau di Indonesia sekitar 17.000 pulau dengan
lima pulau besar, yaitu Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian
sedangkan lainya merupakan pulau- pulau kecil seperti Pulau Bali, Madura, dll.
Bentuk kepulauan Indonesia tidak lepas dari sejarah pembentukanya baik proses
endogen maupun eksogen. Kerangka geologi dan tektonik Indonesia didominasi oleh
interaksi antara empat lempeng lifosfer utama yaitu lempeng Eurasia, Philipina,
Pasifik, dan Indoustralia yang bergerak satu dengan yang lainya ( silver dan
Hamitor 1979 dalam sumandjuntak, 2004 : 20 )
Keempat lempeng dunia yang berada di Indonesia memberikan
bentuk morfologi Indonesia yang selalu berubah dari waktu ke waktu pembentukan
morfologi Indonesia sebagian besar di karenakan pertemuan dua lempeng antara
keempat lempeng tersebut baik lempeng benua maupun lempeng samudra. Fisiografi
bagian besar wilayah Indonesia di dominasi oleh perbukitan dan pegunungan. Hal
ini disebabkan karena Indonesia di lewati jalur pegunungan api dinia yaitu
jalur pegunungan Mediterania masuk ke Indonesia melalui Sumatra, Jawa, Bali,
kepulauan Nusa Tenggara dan melingkar ke laut Banda, sedangkan jalur pegunungan
pasifik masuk ke Indonesia melalui Sangihe- Talaud, minahasa, halmahera terus
ke laut banda ( Sutarji 2006 : 4 )
2.2 GPS
(Global Positioning System)
2.2.1
Pengertian
Global Positioning System atau yang biasa
disingkat dengan GPS adalah alat
navigasi elektronik yang menerima informasi dari 4 - 12 satelit sehingga GPS
bisa memperhitungkan posisi di mana kita berada di Bumi. Satelit GPS tidak
mentransmisikan informasi posisi kita, yang ditransmisikan satelit adalah
posisi satelit dan jarak penerima GPS kita dari satelit. Informasi ini diolah
alat penerima GPS kita dan hasilnya ditampilkan kepada kita.
GPS sebenarnya adalah proyek Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS)
yang memberinya nama resmi NAVSTAR (NAVigation Satellite Timing And Ranging).
Bagian utama dari sistem GPS adalah 24 satelit yang mengorbit Bumi di
ketinggian 20.200 kilometer. Orbit satelit dirancang sehingga setiap titik di
Bumi dapat melihat paling sedikit empat satelit pada setiap saat
Tiap satelit mengitari bumi kira-kira sekali dalam 12 jam dengan
kecepatan sekitar 11.000 kilometer per jam. Satelit GPS mempunyai panel-panel
pengumpul tenaga Matahari untuk membangkitkan energi listrik yang
diperlukannya. Selain itu juga ada baterai yang menyimpan tenaga listrik dan
mempergunakannya saat satelit tidak memperoleh sinar Matahari.
2.2.2
Fungsi
1.
Menghitung jarak dan arah dari
lokasi tempat kita berada.
2.
Satu unit GPS dapat menyimpan
dalam memory lokasi di mana kita berada saat ini.
3.
Setiap lokasi dapat diberi nama
atau nomor dan tanggal dan waktu.
4.
Mengingat lokasi yang pernah kita
simpan.
5.
Mengarahkan kita dari satu lokasi
ke lokasi lain dengan simbol berupa grafik.
6.
Menyimpan rute perjalanan kita dan
mengantar kita kembali dengan rute yang sama.
7.
Berfungsi sebagai kompas yang
dapat menuntun kita ke arah yang tepat.
8.
Dapat digunakan sebagai penunjuk
arah di kapal, mobil dengan menggunakan daya sebesar 12 volt.
9.
Beberapa GPS dapat menunjukkan
peta jalan-jalan utama, sungai-sungai.
10.
Beberapa GPS juga dapat
menampilkan kekuatan baterai, posisi satelit, kekuatan sinyal.
2.2.3
bagian bagian GPS
Tombol-tombol
yang penting terdiri dari 8 tombol utama yaitu:
o Power/on/off :untuk menghidupkan dan mematikan GPS.
o Page :untuk
menampilkan menu GPS.
o Mark :untuk
menandai koordinat dari posisi yang diinginkan.
o Goto :untuk menuju ke titik titik yang
sudah kita tandai/ waypoint yang
diinginkan.
o Enter :untuk
konfirmasi pemasukan data.
o Quit :
untuk kembali ke menu sebelumnya.
o In dan Out :
untuk menaikkan/menurunkan skala peta.
o Rocker : untuk
memilih menu, posisi clan memasukkan data
o Find. :berfungsi untuk
menampilkan menu Find, berguna untuk navigasi
mencari suatu titik yang telah diketahui koordinatnya (waypoint).
Gambar 2.1. GPS
2.2.4
Kelemahan
Rata-rata format peta Indonesia biasanya memakai datum dari Jakarta (0
derajat). Kebanyakan alat GPS tidak punya format ini sehingga kita harus
memakai Latitude & Longitude. Di negara lain bisa membaca GPS kita
dan langsung bisa melihat posisi kita di peta.
Langit langsung – Alat GPS perlu melihat langsung satelit untuk
menerima informasi. Oleh karena itu, kita tidak bisa memakai GPS dalam rumah,
atau terlalu dekat gedung-gedung yg tinggi, atau dlm lembah, atau
di bawah hutan lebat.
Bahasa - Dengan GPS Garmin Kita bisa memilih bahasa yang dipakai.
Tetapi bahasa yang tersedia hanya bahasa-bahasa Eropa belum bahasa
Indonesia atau Melayu.
Baterai – Jika baterai habis, tidak ada cadangan bantuan navigasi.
Biasanya alat GPS memakai 4 baterai AA dan cepat habis kalau dipakai
terus-menerus (10 - 36 jam, tergantung model).
Elektronik - Sama seperti alat elekronik lain yang bisa rusak jika
jatuh atau terkena air.
Walaupun alat GPS bisa menghitung ketinggian,
biasanya kesalahan cukup besar dan kurang cocok untuk membantu sebagai
informasi navigasi di daerah pegunungan.
2.2.5
Aplikasi dalam gps
Aplikasi GPS sangat beragam dan tidak terbatas pada hal-hal yang
berhubungan dengan penentuan posisi saja. Di udara, GPS digunakan sebagai salah
satu alternatif peralatan navigasi pesawat terbang. Dibandingkan dengan
peralatan navigasi lain, penerima GPS paling mudah digunakan karena langsung
memberikan posisi pesawat sehingga sangat cepat menjadi populer. Dengan
menggunakan beberapa penerima GPS, orientasi kemiringan pesawat juga bisa
dihitung, GPS juga favorit digunakan untuk membimbing pesawat tanpa awak dan
rudal-rudal jarak jauh.
Di laut, kapal-kapal juga senang menggunakan GPS karena alasan
kemudahan penggunaannya. IMO (International Maritime Organization)
bahkan menganjurkan pemakaian AIS (Automatic Identification System),
yaitu alat penerima GPS yang secara periodik mengirimkan posisi kapal. GPS juga
digunakan untuk mempelajari kebiasaan migrasi satwa laut.
Penerima GPS yang tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran membuat
penggunaannya di darat juga beragam. Mulai dari penerima GPS handheld untuk
perjalanan lintas alam seharga sekitar Rp 1 juta sampai penerima GPS untuk
memantau perjalanan truk-truk kontainer dan kereta api. GPS juga digunakan membuat
peta dan membantu bermain golf. Jam satelit GPS yang sangat presisi juga banyak
dimanfaatkan, di antaranya sinkronisasi antar BTS/menara pada jaringan telepon
seluler.
2.3
WATERPASS
2.3.1
waterpass
Pengukuran
waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua titik atau
lebih. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data
sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.
Hasil-hasil
dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan untuk perencanaan jalan, jalan
kereta api, saluran, penentuan letak bangunan gedung yang didasarkan atas
elevasi tanah yang ada, perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian
terhadap saluran-saluran yang sudah ada, dan lain-lain
2.3.2
Fungsi
waterpass
a. Memperoleh
pandangan mendatar atau mendapat garis bidikan yang sama tinggi, sehingga titik
– titik yang tepat garis bidikan/ bidik memiliki ketinggian yang sama.
b. Dengan
pandangan mendatar ini dan diketahui jarak dari garis bidik yang dapat
dinyatakan sebagai ketinggian garis bidik terhadap titik – titik tertentu, maka
akan diketahui atau ditentukan beda tinggi atau ketinggian dari titik – titik
tersebut. Alat ini dapat ditambah fungsi atau kegunaannya dengan menambah
bagian alat lainnya.
Umumnya
alat ukur waterpass ditambah bagian alat lain, seperti :
c.
Benang stadia, yaitu dua buah benag yang berada di atas dan dibawah serta
sejajar dan dengan jarak yang sama dari benang diafragma mendatar. Dengan
adanya benang stadia dan bantuan alat ukur waterpass berupa rambu atau bak ukur
alat ini dapat digunakan sebagai alat ukur jarak horizontal atau mendatar.
Pengukuran jarak dengan cara seperti ini dikenal dengan jarak optik.
d.
Lingkaran berskala, yaitu lingkaran di badan alat yang dilengkapi dengan
skala ukuran sudut. Dengan adanya lingkaran berskala ini arah yang dinyatakan
dengan bacaan sudut dari bidikan yang ditunjukkan oleh benang diafragma tegak
dapat diketahui, sehingga bila dibidikkan ke dua buah titik, sudut antara ke
dua titik tersebut dengan alat dapat ditentukan atau dengan kata lain dapat
difungsikan sebagai alat pengukur sudut horizontal.
2.3.3
bagian
bagian waterpass
a.
Pesawat
penyipat datar (PPD)
Gambar 2.2. Pesawat waterpass
Alat ukur waterpass secara
umum memiliki bagian-bagian sebagai berikut :
1. Lingkaran
horizontal berskala,
2. Skala
pada lingkaran horizontal,
3. Okuler
teropong,
4. Alat
bidik dengan celah penjara,
5. Cermin
nivo,
6. Sekrup
penyetel fokus,
7. Sekrup
penggerak horizontal,
8. Sekrup
pengungkit,
9. Sekrup
pendatar,
10. Obyektif
teropong,
11. Nivo
tabung,
12. Nivo
kotak.
b. Statif (Kaki
Tiga)
Statif (kaki tiga)
berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat
menyangga penempatan alat yang pada masing-masing ujungnya runcing, agar masuk
ke dalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tinggi rendahnya
sesuai dengan keadaan tanah tempat alat itu berdiri. Seperti tampak pada gambar
dibawah ini :
Gambar
2.2.1 kaki tiga
c. Unting
– Unting
Unting-unting ini
melekat dibawah penyetel kaki statif, unting-unting ini berfungsi sebagai tolak
ukur apakah waterpass tersebut sudah berada tepat di atas patok.
Gambar 2.2.2 Unting-unting
d. Rambu Ukur
Rambu ukur mempunyai
bentuk penampang segi empat panjang yang berukuran ± 3– 4 cm, lebar ± 10
cm, panjang ± 300 cm, bahkan ada yang panjangnya mencapai 500 cm. Ujung atas
dan bawahnya diberi sepatu besi. Bidang lebar dari bak ukur dilengkapi
dengan ukuran milimeter dan diberi tanda pada bagian-bagiannya dengan cat
yang mencolok. Bak ukur diberi cat hitam dan merah dengan dasar putih,
maksudnya bila dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Bak ukur ini berfungsi
untuk pembacaan pengukuran tinggi tiap patok utama secara detail.
Gambar
2.2.3 rambu ukur
2.3.4
Kelemahan dan kelebihan waterpass
· J Kelebihan Waterpass
a. Memiliki ketelitian yang cukup
tinggi
b. Mampu melakukan pengukuran beda
tinggi secara lebih cepat
c. Centering lebih cepat karena hanya
centering untuk nivo kotak
· J Kelemahan Waterpass
a. Gerakan teropong sipat datar
terbatsr sehingga kurang mampu membidik area curam.
2.4
THEODOLIT
2.4.1
Theodolit
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang
digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak.
Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam
theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik).
Di dalam pekerjaan –
pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam
bentuk pengukuran polygon, pemetaan situasi, maupun pengamatan matahari.
Theodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti Pesawat Penyipat Datar
bila sudut verticalnya dibuat 90º.
Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan bertingkat.
Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan bertingkat.
2.4.2
Bagian bagian dari theodolit
Secara umum, konstruksi theodolit terbagi atas dua bagian
:
1.
Bagian atas terdiri dari
J Teropong / Teleskope
J Nivo tabung
J Sekrup Okuler dan Objektif
J Sekrup Gerak Vertikal
J Sekrup gerak horizontal
J Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal
J Nivo kotak
J Sekrup pengunci teropong
J Sekrup pengunci sudut vertical
J Sekrup pengatur menit dan detik
J Teropong / Teleskope
J Nivo tabung
J Sekrup Okuler dan Objektif
J Sekrup Gerak Vertikal
J Sekrup gerak horizontal
J Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal
J Nivo kotak
J Sekrup pengunci teropong
J Sekrup pengunci sudut vertical
J Sekrup pengatur menit dan detik
2. Bagian
Bawah terdiri dari :
J Statif / Trifoot
J Tiga sekrup penyetel nivo kotak
J Unting – unting
J Sekrup repitisi
J Sekrup pengunci pesawat dengan statif
J Statif / Trifoot
J Tiga sekrup penyetel nivo kotak
J Unting – unting
J Sekrup repitisi
J Sekrup pengunci pesawat dengan statif
Gambar 2.3 Bagian
bagian Thedolite
2.4.3
Persyaratan
Operasi Theodolit
·
Sumbu 1 harus tegak lurus dengan sumbu 2
(dengan menyetel nivo tabung dan nivo kotaknya).
·
Garis bidik harus tegak lurus dengan
sumbu 2.
·
Garis jurusan nivo skala tegak, harus
sejajar dengan indeks skala tegak.
· Garis
jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu 2.
2.3.4 Kelebihan Digital Theodolite
·
Lebih
mudah dalam pembacaan sudut, baik horizontal maupun vertikal,
·
Mengurangi
blunder, baik dari instrument,maupun faktor manusia (human error),
·
Alat
lebih tahan terhadap segala kondisi, dengan IP66 – Standart Internasional,
·
Memakai
baterai yang hemat dalam pemakaian.
BAB
III
PROSEDUR
KERJA
3.1
Penggunaan GPS
GPS (Global Positioning System)
sudah menjadi alat yang wajib dibawa bagi para surveyor dalam melakukan
pengamatan vegetasi, satwaliar, fisik lingkungan, dan sebagainya. Dengan
menggunakan GPS, kita dapat menentukan lokasi geografis dari suatu titik
pengamatan maupun track perjalanan survey. Fungsi altimeter sebagai
alat pengukur ketinggian suatu lokasi dan kompas untuk menentukan arah azimuth
sudah dapat diwakili dengan menggunakan GPS.
1.
Menyalakan GPS dan menunggu
sambungan dengan satelit.
2.
Melihat jalur yang akan di lalui dan
sebisa mungkin membuat jalur dengan bentuk diagonal tertutup.
3.
Pada peta yang di tumjukkan dalam GPS
yang ingin di tentukan koordinatnya tekanlah MARK dan muncullah titik
koordinat dan akurasi pada daerah yang di catat oleh GPS.
4.
Catatlah koordinat, akurasi, dan
ketinggian yang telah terbaca dalam GPS.
3.2
Penggunaan
Waterpass
Pengukuran
waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua titik atau
lebih. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data
sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.
Cara
penggunaan watrepas adalah sebagai berikut :
1.
Pasanglah tripod statif (kaki 3) dan
pasanglah waterpass pada alas di tripod.
2.
Atur lah alat ukur sehingga nivo kontak
tepat ditengah, dengan menggunakan 3 buah skrup penyetel
3.
Tariklah meteran dan atur jaraknya
dengan tiang yang akan di ukur,
4.
Intip lensa okuler, fokuskan pada tiang
(objek) yang akan diukur.
5.
Catat ketinggian tiang.
6.
Ulangi langkah yang sama pada tempat
yang akan dicari selisih ketinggiannya.
3.3
penggunaan theodolite
Dalam
pengukuran teodolit kita harus memperhatikan dengan seksama karena apabila
salah mengoprasikan alat akan mengakibatkan rusaknya teodolit. Adapaun langkah
dalam pengukuran dengan menggunakan teodolit adalah sebagai berikut :
1.
Letakkan pesawat di atas kaki tiga dan
ikat dengan baut. Setelah pesawat terikat dengan baik pada statif, pesawat yang
sudah terikat tersebut baru diangkat dan Anda dapat meletakkannya di atas patok
yang sudah diberi paku
2.
Tancapkan salah satu kaki tripod dan
pegang kedua kaki tripod lainnya. Kemudian lihat paku dibawah menggunakan
centring. Jika paku sudah terlihat, kedua kaki tripod tersebut baru diletakkan
di tanah.
3.
Setelah statif diletakkan semua dan
patok beserta pakunya sudah terlihat, ketiga kaki di statif baru diinjak agar
posisinya menancap kuat di tanah dan alat juga tidak mudah goyang. Kemudian,
lihat paku lewat centring. Jika paku tidak tepat, kejar pakunya dengan sekrup
penyetel. Kemudian, lihat nivo kotak. Jika nivo kotak tidak berada di tengah
maka alat posisinya miring. Untuk mengetahui posisi alat yang lebih tinggi,
lihat gelembung pada nivo kotak. Jika nivo kotak berada di timur, posisi alat
tersebut akan lebih tinggi di timur sehingga kaki sebelah timur dapat
dipendekkan.
4.
Setelah posisi gelembung di nivo kotak
berada di tengah,alat sudah dalam keadaan waterpass namun masih dalam keadaan
kasar. Cara mengaluskannya, gunakan nivo tabung. Di bawah theodolit terdapat 3
sekrup penyetel. Sebut saja sekrup A, B, dan C. Untuk menggunakan nivo tabung
sejajarkan nivo tabung dengan 2 sekrup penyetel. Misalnya sekrup A dan B.
Kemudian, lohat posisi gelembungnya. Jika tidak di tengah, posisi alat berarti
masih belum level dan harus ditengahkan. Setelah nivo tabung berada di tengah
baru kemudian diputar 90 derajat atau 270 derajat dan nivo tabung bisa
ditengahkan dengan sekrup C. Setelah ada di tengah, berarti posisi kotak dan
nivo tabung sudah sempurna
5.
Lihat centring. Jika paku sudah tepat di
lingkaran kecil, maka alat sudah tepat di atas patok. Tetapi jika belum, alat
harus digeser terlebih dahulu dengan mengendorkan baut pengikat yang terdapat
di bawah alat ukur. Geser alat agar tepat berada di atas paku namun jangan
diputar karena jika diputar dapat mengubah posisi nivo.
6.
Setelah posisi alat tepat berada di atas
patok, pengaturan nivo tabung perlu diulangi seperti langkah di atas agar
posisinya di tengah lagi.
7.
Setelah selesai, tentukan titik acuan
yaitu 0°00’00″ dan jangan lupa mengunci sekrup penggerak horizontal.
8.
Nyalakan layar dengan tombol power.
Kemudian setting sudut horizontal pada 0°00’00″ dan tekan tombol [0 SET] dua
kali. Tekan tombol [V/%] untuk menampilkan pembacaan sudut vertikal.
9.
Setelah itu baca dan catatlahlah angka
yang di tunjukkan oleh komponen pada batas atas, batas tengah dan batas bawah
pada rambu ukur.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 GPS (Global Positioning System)
Pengamatan
menggunakan GPS (Global Positioning System) dilakukan di Sembilan lokasi yang
berbeda. Berikut ini adalah hasil pengamatan menggunakan GPS.
|
NO
|
Ketinggian
(m)
|
S (LS)
|
E (BT)
|
X
|
Y
|
Z
|
Elevasi
|
||||
|
Der
|
Menit
|
detik
|
der
|
Menit
|
detik
|
||||||
|
1
|
24
|
4
|
0
|
50,7
|
122
|
32
|
24,8
|
122,5402
|
-4,0141
|
24
|
24
|
|
2
|
22
|
4
|
0
|
51,2
|
122
|
32
|
41,1
|
122,5448
|
-4,0142
|
22
|
22
|
|
3
|
22
|
4
|
0
|
45,8
|
122
|
32
|
23,3
|
122,5398
|
-4,0127
|
22
|
22
|
|
4
|
21
|
4
|
0
|
46,3
|
122
|
32
|
20,6
|
122,5391
|
-4,0129
|
21
|
21
|
|
5
|
21
|
4
|
0
|
47,9
|
122
|
32
|
15,4
|
122,5376
|
-4,0133
|
21
|
21
|
|
6
|
23
|
4
|
0
|
51,1
|
122
|
32
|
15,8
|
122,5377
|
-4,0142
|
23
|
23
|
|
7
|
24
|
4
|
0
|
54,4
|
122
|
32
|
16,2
|
122,5378
|
-4,0151
|
24
|
24
|
|
8
|
26
|
4
|
0
|
57,5
|
122
|
32
|
16,7
|
122,5380
|
-4,0160
|
26
|
26
|
|
9
|
27
|
4
|
0
|
56,4
|
122
|
32
|
21,2
|
122,5392
|
-4,0157
|
27
|
27
|
|
10
|
26
|
4
|
0
|
56,1
|
122
|
32
|
24,4
|
122,5401
|
-4,0156
|
26
|
26
|
Tabel 4.1 Data pengamatan GPS
Berdasarkan data di atas di ketahui bahwa setiap
stasiun yang berbeda mempunya data koordinat yang berbeda dengan interval
pengambilan data + 50 – 100 m, dalam pengamatan menggunakan GPS ini
terdapat titik-titik ketinggian yang berbeda beda, bahkan mungkin ada yang sama
yang menandakan terdapat relief-relief bumi yang berbeda beda
Data yang telah di peroleh dengan
menggunakan GPS kemudian dibuat kontur agar diketahui reliefnya dan lintasan
yang dilalui selamanya pengukuran. Untuk membuat kontur lapangan yang telah di
ukur menggunakan GPS nilai koordinat South dan East di konfersi kedalam UTM dengan
menggunakan rumus yang telah di tentukan dan di dapatkan kontur pada gambar
berikut
Gambar
4.1.1 peta kontur hasil pengamatan dalam bentuk 3d
Dengan membuat gambar kontur seperti
gambar di atas kita dapat melihat keadaan dan relief permukaan yang telah kita
lalui sebanyak 10 stasiun dengan titik koordinat yang berbeda – beda dengan
ketinggian yang beragam. Dengan melihat
garis konturnya kita dapat mengetahui daerah yang memiliki topografi rendah,
tinggi maupun curam, garis kontur yang saling berdekatan menunjukan bahwa
daerah tersebut memiliki toporgafi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya dan
garis kontur yang jarang menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki topografi
yang lebih rendah dari daerah sekitarnya atau topografi datar.
Meskipun tinggi rendahnya daerah
tersebut sangat sedikit perbedaannya, namun sudah jelas terdapat perbedaan
tinggi rendahnya daerah tersebut
4.2 Waterpass
pengamatan menggunakan waterpass
dilakukan didua tempat/titik berbeda dan pada dua tempat tersebut mendapatkan
hasil yang berbeda beda.
Berikut hasil yang didapatkankan
|
No
|
Tinggi alat
|
Jarak (m)
|
B.atas
|
B.tengah
|
B.bawah
|
Tiang pengukuran
|
Beda tinggi
|
|
1
|
1,17
|
30
|
11,1
|
9,1
|
8,1
|
9,6
|
-8,43
|
|
2
|
1,20
|
30
|
11,8
|
10,2
|
8,8
|
10,3
|
-9,1
|
Table
4.2 data pengamatan menggunakan waterpass
Dari
gambar Tabel diatas, telah ditemukan bahwa pada dua tempat tersebut terdapat
titik-titik yang berbeda beda, pada titik pertama didapatkan jarak sekitar ±30
m dan jarak pada rambu-rambu ukurpun ±30 meter. Dan dari dua tempat tersebut
didapatkan tinggi yang berbeda, misalnya
pada titik yang pertama 1,17 meter, sedangkan lokasi kedua yaitu 1,20 meter.
Untuk lokasi pertama, Nilai yang diperoleh pada pengukuran benang atas, benang
tengah, dan benang bawah memiliki selisih yang sama antara benang atas dan
benang tengah, begitu pula antara benang tengah dan benang bawah yaitu 1 meter.
Dari pengukuran benang atas, benang tengah dan benang bawah ini dapat diperoleh
dua data yang baru yaitu tiang pengukuran yang diperoleh dengan cara setengah
dari cara menjumlahkan nilai benang atas dan benang bawah perdua sehingga
hasilnya 9,1 meter untuk lokasi pertama dan 10,2 meter untuk lokai kedua. Data
yang lain yang diperoleh lagi yaitu beda tinggi, dimana beda tinggi dapat
menentukan daerah permukaan tanah yang mengalami penaikan atau penurunan, hasil
yang diperoleh yaitu -8,43 untuk lokasi pertama yang berarti permukaan tanah
lokasi ini mengalami penurunan.
Sedangkan beda tinggi untuk lokasi kedua yaitu -9,1 yang berarti daerah
permukaan tanah lokasi ini mengalami penurunan juga. Dengan adanya perbedaan
hasil pengukuran perbedaan ketinggian menggunakan waterpass di dapati bahwa di
dua titik pengamatan mempunya beda keinggian yang kecil atau topografi datar di
titi titik pengukuran tersebut.
4.3 Thedolit
|
No
|
Tinggi alat
|
H
|
V
|
||||
|
derajat
|
Menit
|
detik
|
derajat
|
menit
|
detik
|
||
|
1
|
1.42
|
246
|
32
|
45
|
91
|
34
|
40
|
|
2
|
1.44
|
219
|
7
|
30
|
92
|
19
|
40
|
|
B.A
|
B.T
|
B.B
|
H
|
V (zerit)
|
m
|
beda tinggi
|
jarak datar
|
|
|
12.8
|
11.3
|
9.8
|
246.55
|
91.58
|
1.58
|
-1.62
|
29.99
|
|
|
8.6
|
7
|
5.4
|
219.13
|
92.33
|
2.33
|
7.43
|
29.98
|
Table
4.3 data pengamatan menggunakan theodolit
Berdasarkan
data di atas yang di ukur menggunakan Teodolit dengan frekuensi pengukuran
sebanyak dua titik, penggunaan theodolit sebenarnya hamper sama dengan
waterpass, hanya saja penggunaannya lebih simple dari waterpass yaitu tidak
perlu mengukur jauh rambu yang dipasang seprti yang dilakukan oleh
waterpass sehingga tidak perlu mengukur
mengukur kembali, setelah penggunaan theodolit dilakukan dan didapatkan dua
titik yang berbeda didapat pula beda
tinggi bernilai Minus (-) artinya daerah pengukuran semakin menurun dari alat
ukur Teodolite dengan tiang ukur yang di pasang 30 meter di depan alat ukur.
BAB
V
KESIMPULAN
5.1 kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum lapangan Geomorfologi menggunakan
GPS, Teodolit dan Waterpass ini, adalah sebagai berikut:
1.
merupakan alat yang di pakai di
lapangan untuk mengetahui posisi dan daerah tempat kita melakukan pengamatan
dengan titik koordinat dengan system pengambilan data dari beberapa satelit yang
terhubung dengan GPS. Pada saat pertama menggunakan Gps, terdapat ketinggian
yang tidak pasti karna mengalami penaikan dan penurunan, yang disebabkan langit
langit yang tertutup awan dan itu
menandakan daerah yang tertutup sangat berpengaru terhadap sinyal yang di
tangkap oleh Gps. Teodolit dan Waterpass merupakan alat pengamatan yang di
gunakan di lapangan untuk menentukan perbedaan ketinggian suatu topografi
wilayah yang sedang di amati. Penggunaan alat ini juga sangat penting di
perthatikan agar dalam pengamatan kita mendapatkan data yang akurat sebagai
bahan yang kemudian akan di analisis lebih lanjut.
2.
Titik koordinat suatu wilayah dapat
di tentukan dengan menggunkan GPS. GPS merupakan alat yang menggunakan satelit
untuk menentukan koordinat suatu wilayah, alat ini juga memberikan pencitraan
non foto yang sangat bergunaa di lapangan karena alat ini juga menggambarkan
rute yang telah di lalui selama pengamatan di lapangan.
3.
Pengukuran menggunakan Teodolit dan
Waterpass hampir sama hanya saja dalam alat Teodolit dapat di tentukan nilai
lintang dan bujur yang di tunjukkan dalam koordinat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar