Jumat, 17 Oktober 2014

Laporan praktikum Geomorfologi



LAPORAN PRAKTIKUM GEOMORFOLOGI







OLEH:

AGUS PANJI VERDHA
FI B2 13 003



PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidahyah-Nya, terutama kesehatan dan kesempatan, sehingga saya dapat menyelesaikan “Laporan Lapangan Praktikum Geomorfologi” sesuai waktu yang telah diberikan. Saya merasa pembuatan laporan praktikum lapangan yang saya buat ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu diharapkan kritik dan  sarannya yang dapat menjadi acuan pembuatan laporan praktikum dikemudin harinya.
Ucapan terimah kasih juga  saya sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu,terutama kepada Bapak Drs. Firdaus, M.si selaku dosen mata kuliah Geomorfologi dan ka’ Irfan Saputra yang telah membimbing kami sehingga “Laporan Praktikum Lapangan Geomorfologi” ini dapat terselesaikan.
Laporan ini berisi semua hal-hal yang kami lakukan di lapangan semoga bermanfaat bagi yang membacanya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kendari, 3  Oktober 2014

Penyusun


AGUS PANJI VERDHA



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... iii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang................................................................................. 1
1.2  Tujuan............................................................................................... 2
1.3  Alat dan Bahan................................................................................ 2
BAB II LANDASAN TEORI
2.1  Geomorfologi................................................................................... 3
2.2  GPS.................................................................................................. 4
2.3  Waterpass......................................................................................... 8
2.4  Thedolite.......................................................................................... 13


BAB III PROSEDUR KERJA
3.1  Penggunaan GPS.............................................................................. 16
3.2  Penggunaan Waterpass..................................................................... 16
3.3  Penggunaan Theodolite.................................................................... 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1   GPS................................................................................................. 19
4.2   Waterpass........................................................................................ 21
4.3  Thedolite.......................................................................................... 22
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan....................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA







DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 GPS ................................................................................................... 6
Gambar 2.2 Pesawat waterpass.............................................................................. 9
Gambar 2.2.1 Kaki Tiga………………………………………………………... 11
Gambar 2.2.2 Unting-unting................................................................................. 11
Gambar 2.2.3 Rambu ukur.................................................................................... 12
Gambar 2.3. Bagian bagian Theodolite………………………………..…………14
Gamabar 4.1 Peta kontur hasil pengamatan GPS ..……………………………...20
Gambar  4.1 Peta kontur hasil pengamatan GPS dalam bentuk 3D……………..20

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Alat dan Bahan...................................................................................... 2
Tabel 4.1 Data pengamatan GPS.......................................................................... 19
Tabel 4.2 Data pengamatan Waterpass................................................................. 21
Tabel 4.3 data peengamatan Theodolite................................................................ 22





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Geomorfologi berasal dari kata Yunani yang arti “Geo” adalah Bumi, “Morpho” adalah bentuk, serta “logos” juga adalah ilmu, jadi igeomorfologi berartii lmu yang mempelajari tentang bentuk bumi atau roman muka bumi. Dan ilmuan terus meneliti tetang kejadian yang terjadi pada bumi ini,seperti gempa bumi, erosi, ledakan gunung berapi atau pengangkatan atau juga penurunan suatu dataran terjadi dalam proses yang sangat lama serta kejadian yang lain, yang berhubungan dengan bumi.
Dalampraktikum ini kita memakai alat-alat seperti GPS, Waterpass dan Theodolit. Alat-alat ini banyak digunakan dalam Ilmu Ukur Tanah (Plane Surveying). Ilmu Ukur tanah dianggap sebagai disiplin ilmu, teknik dan seni yang meliputi semua metoda untuk pengumpulan dan pemrosesan informasi tentang permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi yang menganggap bumi sebagai bidang datar, sehingga dapat ditentukan posisi titik-titik di permukaan bumi. Dari titik yang telah didapatkan tersebut dapat disajikan dalam bentuk peta.
Dalam praktikum Ilmu Ukur Tanah ini mahasiswa akan berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan survey, dengan tujuan agar Ilmu Ukur Tanah yang didapat dibangkukuliah dapat diterapkan di lapangan, dengan demikian diharapkan mahasiswa dapat memahami dengan baik aspek diatas.
Dengan praktikum ini diharapkan dapat melatih mahasiswa melakukan pemetaan situasi teritris. Hal ini ditempuh mengingat bahwa peta situasi pada umumnya diperlukan untuk berbagai keperluan perencanaan teknis atau keperluan-keperluan lainnya yang menggunakan peta sebagai acuan.

1.2  Tujuan
1.      Memahami cara penggunaan GPS, Waterpass dan Teodholit.
2.      Menetukan titik Koordinat menggunakan GPS di Lapangan.
3.      Menentukan perbedaan ketinggian permukaan suatu bidang menggunakan Teodholit dan Waterpas

1.3  Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yan digunakan pada praktikum lapangan ini, yaitu dapat dilihat pada table berikut beserta dengan fungsinya masin-masing adalah sebagai berikut :

No
Alat dan Bahan
Kegunaan
1
Kompas Geologi
Untuk menentukan arah sebelum pengukuran menggunakan Teodholit
2
Teodholit
Untuk  menentukan perbedaan tinggi suatu bidang.
3
GPS
Untuk menentukan posisi stasiun
4
Waterpass
Untuk menentukan perbedaan suatu bidang
5
Pensil dan Pulpen
Untuk menulis  hasil yang telah diamati
6
Lembar Pengamatan
tempat menulis hasil yang telah diamati
7
Meteran
Untuk mengukur jarak di lapangan dan mengukur tinggi alat

Tabel 1.1 Alat dan Bahan


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Geomorfologi


Indonesia merupakan suatu Negara yang berbentuk kepulauan. Indonesia memanjang yang berbentuk linear dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. Jumlah pulau di Indonesia sekitar 17.000 pulau dengan lima pulau besar, yaitu Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian sedangkan lainya merupakan pulau- pulau kecil seperti Pulau Bali, Madura, dll. Bentuk kepulauan Indonesia tidak lepas dari sejarah pembentukanya baik proses endogen maupun eksogen. Kerangka geologi dan tektonik Indonesia didominasi oleh interaksi antara empat lempeng lifosfer utama yaitu lempeng Eurasia, Philipina, Pasifik, dan Indoustralia yang bergerak satu dengan yang lainya ( silver dan Hamitor 1979 dalam sumandjuntak, 2004 : 20 )
Keempat lempeng dunia yang berada di Indonesia memberikan bentuk morfologi Indonesia yang selalu berubah dari waktu ke waktu pembentukan morfologi Indonesia sebagian besar di karenakan pertemuan dua lempeng antara keempat lempeng tersebut baik lempeng benua maupun lempeng samudra. Fisiografi bagian besar wilayah Indonesia di dominasi oleh perbukitan dan pegunungan. Hal ini disebabkan karena Indonesia di lewati jalur pegunungan api dinia yaitu jalur pegunungan Mediterania masuk ke Indonesia melalui Sumatra, Jawa, Bali, kepulauan Nusa Tenggara dan melingkar ke laut Banda, sedangkan jalur pegunungan pasifik masuk ke Indonesia melalui Sangihe- Talaud, minahasa, halmahera terus ke laut banda ( Sutarji 2006 : 4 )


2.2   GPS (Global Positioning System)

2.2.1        Pengertian
Global Positioning System atau yang biasa disingkat dengan GPS  adalah alat navigasi elektronik yang menerima informasi dari 4 - 12 satelit sehingga GPS bisa memperhitungkan posisi di mana kita berada di Bumi. Satelit GPS tidak mentransmisikan informasi posisi kita, yang ditransmisikan satelit adalah posisi satelit dan jarak penerima GPS kita dari satelit. Informasi ini diolah alat penerima GPS kita dan hasilnya ditampilkan kepada kita.
GPS sebenarnya adalah proyek Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) yang memberinya nama resmi NAVSTAR (NAVigation Satellite Timing And Ranging). Bagian utama dari sistem GPS adalah 24 satelit yang mengorbit Bumi di ketinggian 20.200 kilometer. Orbit satelit dirancang sehingga setiap titik di Bumi dapat melihat paling sedikit empat satelit pada setiap saat
Tiap satelit mengitari bumi kira-kira sekali dalam 12 jam dengan kecepatan sekitar 11.000 kilometer per jam. Satelit GPS mempunyai panel-panel pengumpul tenaga Matahari untuk membangkitkan energi listrik yang diperlukannya. Selain itu juga ada baterai yang menyimpan tenaga listrik dan mempergunakannya saat satelit tidak memperoleh sinar Matahari.

2.2.2        Fungsi
1.      Menghitung jarak dan arah dari lokasi tempat kita berada.
2.      Satu unit GPS dapat menyimpan dalam memory lokasi di mana kita berada saat ini.
3.      Setiap lokasi dapat diberi nama atau nomor dan tanggal dan waktu.
4.      Mengingat lokasi yang pernah kita simpan.
5.      Mengarahkan kita dari satu lokasi ke lokasi lain dengan simbol berupa grafik.
6.      Menyimpan rute perjalanan kita dan mengantar kita kembali dengan rute yang sama.
7.      Berfungsi sebagai kompas yang dapat menuntun kita ke arah yang tepat.
8.      Dapat digunakan sebagai penunjuk arah di kapal, mobil dengan menggunakan daya sebesar 12 volt.
9.      Beberapa GPS dapat menunjukkan peta jalan-jalan utama, sungai-sungai.
10.  Beberapa GPS juga dapat menampilkan kekuatan baterai, posisi satelit, kekuatan sinyal.


2.2.3        bagian bagian GPS
Tombol-tombol yang penting terdiri dari 8 tombol utama yaitu:
o    Power/on/off         :untuk menghidupkan dan mematikan GPS.
o    Page                      :untuk menampilkan menu GPS.
o    Mark                      :untuk menandai koordinat dari posisi yang diinginkan.
o    Goto                      :untuk menuju ke titik titik yang sudah kita tandai/ waypoint                       yang diinginkan.
o    Enter                     :untuk konfirmasi pemasukan data.
o    Quit                       : untuk kembali ke  menu sebelumnya.
o     In dan Out           : untuk menaikkan/menurunkan skala peta.
o    Rocker                   : untuk memilih menu, posisi clan memasukkan data
o    Find.                      :berfungsi untuk menampilkan menu Find, berguna untuk                            navigasi mencari suatu titik yang telah diketahui koordinatnya                  (waypoint).










 















            Gambar 2.1. GPS


2.2.4        Kelemahan
Rata-rata format peta Indonesia biasanya memakai datum dari Jakarta (0 derajat). Kebanyakan alat GPS tidak punya format ini sehingga kita harus memakai Latitude & Longitude. Di negara lain bisa membaca GPS kita dan langsung bisa melihat posisi kita di peta.
Langit langsung – Alat GPS perlu melihat langsung satelit untuk menerima informasi. Oleh karena itu, kita tidak bisa memakai GPS dalam rumah, atau terlalu dekat gedung-gedung yg tinggi, atau dlm lembah, atau di bawah hutan lebat.
Bahasa - Dengan GPS Garmin Kita bisa memilih bahasa yang dipakai. Tetapi bahasa yang tersedia hanya bahasa-bahasa Eropa belum bahasa Indonesia atau Melayu.
Baterai – Jika baterai habis, tidak ada cadangan bantuan navigasi. Biasanya alat GPS memakai 4 baterai AA dan cepat habis kalau dipakai terus-menerus (10 - 36 jam, tergantung model).
Elektronik - Sama seperti alat elekronik lain yang bisa rusak jika jatuh atau terkena air.
Walaupun alat GPS bisa menghitung ketinggian, biasanya kesalahan cukup besar dan kurang cocok untuk membantu sebagai informasi navigasi di daerah pegunungan.

2.2.5        Aplikasi dalam gps
Aplikasi GPS sangat beragam dan tidak terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan penentuan posisi saja. Di udara, GPS digunakan sebagai salah satu alternatif peralatan navigasi pesawat terbang. Dibandingkan dengan peralatan navigasi lain, penerima GPS paling mudah digunakan karena langsung memberikan posisi pesawat sehingga sangat cepat menjadi populer. Dengan menggunakan beberapa penerima GPS, orientasi kemiringan pesawat juga bisa dihitung, GPS juga favorit digunakan untuk membimbing pesawat tanpa awak dan rudal-rudal jarak jauh.
Di laut, kapal-kapal juga senang menggunakan GPS karena alasan kemudahan penggunaannya. IMO (International Maritime Organization) bahkan menganjurkan pemakaian AIS (Automatic Identification System), yaitu alat penerima GPS yang secara periodik mengirimkan posisi kapal. GPS juga digunakan untuk mempelajari kebiasaan migrasi satwa laut.
Penerima GPS yang tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran membuat penggunaannya di darat juga beragam. Mulai dari penerima GPS handheld untuk perjalanan lintas alam seharga sekitar Rp 1 juta sampai penerima GPS untuk memantau perjalanan truk-truk kontainer dan kereta api. GPS juga digunakan membuat peta dan membantu bermain golf. Jam satelit GPS yang sangat presisi juga banyak dimanfaatkan, di antaranya sinkronisasi antar BTS/menara pada jaringan telepon seluler.

2.3      WATERPASS
2.3.1        waterpass
Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua titik atau lebih. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.
Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada, perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-saluran yang sudah ada, dan lain-lain
2.3.2        Fungsi waterpass
a.  Memperoleh pandangan mendatar atau mendapat garis bidikan yang sama tinggi, sehingga titik – titik yang tepat garis bidikan/ bidik memiliki ketinggian yang sama.
b.  Dengan pandangan mendatar ini dan diketahui jarak dari garis bidik yang dapat dinyatakan sebagai ketinggian garis bidik terhadap titik – titik tertentu, maka akan diketahui atau ditentukan beda tinggi atau ketinggian dari titik – titik tersebut. Alat ini dapat ditambah fungsi atau kegunaannya dengan menambah bagian alat lainnya.
Umumnya alat ukur waterpass ditambah bagian alat lain, seperti :
c.  Benang stadia, yaitu dua buah benag yang berada di atas dan dibawah serta sejajar dan dengan jarak yang sama dari benang diafragma mendatar. Dengan adanya benang stadia dan bantuan alat ukur waterpass berupa rambu atau bak ukur alat ini dapat digunakan sebagai alat ukur jarak horizontal atau mendatar. Pengukuran jarak dengan cara seperti ini dikenal dengan jarak optik.
d.  Lingkaran berskala, yaitu lingkaran di badan alat yang dilengkapi dengan skala ukuran sudut. Dengan adanya lingkaran berskala ini arah yang dinyatakan dengan bacaan sudut dari bidikan yang ditunjukkan oleh benang diafragma tegak dapat diketahui, sehingga bila dibidikkan ke dua buah titik, sudut antara ke dua titik tersebut dengan alat dapat ditentukan atau dengan kata lain dapat difungsikan sebagai alat pengukur sudut horizontal.

2.3.3        bagian bagian waterpass

a.        Pesawat penyipat datar (PPD)









            Gambar 2.2. Pesawat waterpass





Alat ukur waterpass secara umum memiliki bagian-bagian sebagai berikut :   
1.         Lingkaran horizontal berskala,
2.         Skala pada lingkaran horizontal,
3.         Okuler teropong,
4.         Alat bidik dengan celah penjara,
5.         Cermin nivo,
6.         Sekrup penyetel fokus,
7.         Sekrup penggerak horizontal,
8.         Sekrup pengungkit,
9.         Sekrup pendatar,
10.     Obyektif teropong,
11.     Nivo tabung,
12.     Nivo kotak.

b.      Statif (Kaki Tiga)
Statif (kaki tiga) berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat menyangga penempatan alat yang pada masing-masing ujungnya runcing, agar masuk ke dalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan keadaan tanah tempat alat itu berdiri. Seperti tampak pada gambar dibawah ini :


                                           
                                


    


    
Gambar 2.2.1 kaki tiga
c.       Unting – Unting
Unting-unting ini melekat dibawah penyetel kaki statif, unting-unting ini berfungsi sebagai tolak ukur apakah waterpass tersebut sudah berada tepat di atas patok.

 Gambar 2.2.2 Unting-unting
d.   Rambu Ukur
Rambu ukur mempunyai bentuk penampang segi empat panjang yang berukuran  ± 3– 4 cm, lebar ± 10 cm, panjang ± 300 cm, bahkan ada yang panjangnya mencapai 500 cm. Ujung atas dan bawahnya diberi sepatu besi. Bidang lebar dari bak ukur dilengkapi dengan  ukuran milimeter dan diberi tanda pada bagian-bagiannya dengan cat yang mencolok. Bak ukur diberi cat hitam dan merah dengan dasar putih, maksudnya bila dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Bak ukur ini berfungsi untuk pembacaan pengukuran tinggi tiap patok utama secara detail.



 



                        Gambar 2.2.3 rambu ukur
2.3.4        Kelemahan dan kelebihan waterpass

·        J Kelebihan Waterpass
a.       Memiliki ketelitian yang cukup tinggi
b.      Mampu melakukan pengukuran beda tinggi secara lebih cepat
c.       Centering lebih cepat karena hanya centering untuk nivo kotak
  
·        J  Kelemahan Waterpass
a.       Gerakan teropong sipat datar terbatsr sehingga kurang mampu membidik area curam.








2.4      THEODOLIT

2.4.1        Theodolit
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik).
Di dalam pekerjaan – pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, theodolit sering digunakan dalam bentuk pengukuran polygon, pemetaan situasi, maupun pengamatan matahari. Theodolit juga bisa berubah fungsinya menjadi seperti Pesawat Penyipat Datar bila sudut verticalnya dibuat 90º.
Dengan adanya teropong pada theodolit, maka theodolit dapat dibidikkan kesegala arah. Di dalam pekerjaan bangunan gedung, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan / pekerjaan pondasi, theodolit juga dapat digunakan untuk menguker ketinggian suatu bangunan bertingkat.
2.4.2        Bagian  bagian dari theodolit
Secara umum, konstruksi theodolit terbagi atas dua bagian :
1.       Bagian atas terdiri dari
J Teropong / Teleskope
J Nivo tabung
J Sekrup Okuler dan Objektif
J Sekrup Gerak Vertikal
J Sekrup gerak horizontal
J Teropong bacaan sudut vertical dan horizontal
J Nivo kotak
J Sekrup pengunci teropong
J Sekrup pengunci sudut vertical
J Sekrup pengatur menit dan detik

2.      Bagian Bawah terdiri dari :
J Statif / Trifoot
J Tiga sekrup penyetel nivo kotak
J Unting – unting
J Sekrup repitisi
J Sekrup pengunci pesawat dengan statif

Gambar 2.3 Bagian bagian Thedolite




2.4.3        Persyaratan Operasi Theodolit
·      Sumbu 1 harus tegak lurus dengan sumbu 2 (dengan menyetel nivo tabung dan nivo kotaknya).
·      Garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu 2.
·      Garis jurusan nivo skala tegak, harus sejajar dengan indeks skala tegak.
·      Garis jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu 2.
2.3.4 Kelebihan Digital Theodolite
·         Lebih mudah dalam pembacaan sudut, baik horizontal maupun vertikal,
·         Mengurangi blunder, baik dari instrument,maupun faktor manusia (human error),
·         Alat lebih tahan terhadap segala kondisi, dengan IP66 – Standart Internasional,
·         Memakai baterai yang hemat dalam pemakaian.











BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1               Penggunaan GPS
GPS (Global Positioning System) sudah menjadi alat yang wajib dibawa bagi para surveyor dalam melakukan pengamatan vegetasi, satwaliar, fisik lingkungan, dan sebagainya. Dengan menggunakan GPS, kita dapat menentukan lokasi geografis dari suatu titik pengamatan maupun track perjalanan survey. Fungsi altimeter sebagai alat pengukur ketinggian suatu lokasi dan kompas untuk menentukan arah azimuth sudah dapat diwakili dengan menggunakan GPS.
1.           Menyalakan        GPS dan menunggu sambungan dengan satelit.
2.                  Melihat jalur yang akan di lalui dan sebisa mungkin membuat jalur dengan bentuk diagonal tertutup.
3.                  Pada peta yang di tumjukkan dalam GPS yang ingin di tentukan koordinatnya tekanlah MARK   dan muncullah titik koordinat dan akurasi pada daerah yang di catat oleh GPS.
4.                  Catatlah koordinat, akurasi, dan ketinggian yang telah terbaca dalam GPS.
3.2              Penggunaan Waterpass
Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua titik atau lebih. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.
Cara penggunaan watrepas adalah sebagai berikut :

1.                  Pasanglah tripod statif (kaki 3) dan pasanglah waterpass pada alas di tripod.
2.                  Atur lah alat ukur sehingga nivo kontak tepat ditengah, dengan menggunakan 3 buah skrup penyetel
3.                  Tariklah meteran dan atur jaraknya dengan tiang yang akan di ukur,
4.                  Intip lensa okuler, fokuskan pada tiang (objek) yang akan diukur.
5.                  Catat ketinggian tiang.
6.                  Ulangi langkah yang sama pada tempat yang akan dicari selisih ketinggiannya.

3.3 penggunaan theodolite
Dalam pengukuran teodolit kita harus memperhatikan dengan seksama karena apabila salah mengoprasikan alat akan mengakibatkan rusaknya teodolit. Adapaun langkah dalam pengukuran dengan menggunakan teodolit adalah sebagai berikut :
1.                  Letakkan pesawat di atas kaki tiga dan ikat dengan baut. Setelah pesawat terikat dengan baik pada statif, pesawat yang sudah terikat tersebut baru diangkat dan Anda dapat meletakkannya di atas patok yang sudah diberi paku
2.                  Tancapkan salah satu kaki tripod dan pegang kedua kaki tripod lainnya. Kemudian lihat paku dibawah menggunakan centring. Jika paku sudah terlihat, kedua kaki tripod tersebut baru diletakkan di tanah.
3.                  Setelah statif diletakkan semua dan patok beserta pakunya sudah terlihat, ketiga kaki di statif baru diinjak agar posisinya menancap kuat di tanah dan alat juga tidak mudah goyang. Kemudian, lihat paku lewat centring. Jika paku tidak tepat, kejar pakunya dengan sekrup penyetel. Kemudian, lihat nivo kotak. Jika nivo kotak tidak berada di tengah maka alat posisinya miring. Untuk mengetahui posisi alat yang lebih tinggi, lihat gelembung pada nivo kotak. Jika nivo kotak berada di timur, posisi alat tersebut akan lebih tinggi di timur sehingga kaki sebelah timur dapat dipendekkan.
4.                  Setelah posisi gelembung di nivo kotak berada di tengah,alat sudah dalam keadaan waterpass namun masih dalam keadaan kasar. Cara mengaluskannya, gunakan nivo tabung. Di bawah theodolit terdapat 3 sekrup penyetel. Sebut saja sekrup A, B, dan C. Untuk menggunakan nivo tabung sejajarkan nivo tabung dengan 2 sekrup penyetel. Misalnya sekrup A dan B. Kemudian, lohat posisi gelembungnya. Jika tidak di tengah, posisi alat berarti masih belum level dan harus ditengahkan. Setelah nivo tabung berada di tengah baru kemudian diputar 90 derajat atau 270 derajat dan nivo tabung bisa ditengahkan dengan sekrup C. Setelah ada di tengah, berarti posisi kotak dan nivo tabung sudah sempurna
5.                  Lihat centring. Jika paku sudah tepat di lingkaran kecil, maka alat sudah tepat di atas patok. Tetapi jika belum, alat harus digeser terlebih dahulu dengan mengendorkan baut pengikat yang terdapat di bawah alat ukur. Geser alat agar tepat berada di atas paku namun jangan diputar karena jika diputar dapat mengubah posisi nivo.
6.                  Setelah posisi alat tepat berada di atas patok, pengaturan nivo tabung perlu diulangi seperti langkah di atas agar posisinya di tengah lagi.
7.                  Setelah selesai, tentukan titik acuan yaitu 0°00’00″ dan jangan lupa mengunci sekrup penggerak horizontal.
8.                  Nyalakan layar dengan tombol power. Kemudian setting sudut horizontal pada 0°00’00″ dan tekan tombol [0 SET] dua kali. Tekan tombol [V/%] untuk menampilkan pembacaan sudut vertikal.
9.                  Setelah itu baca dan catatlahlah angka yang di tunjukkan oleh komponen pada batas atas, batas tengah dan batas bawah pada rambu ukur.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  GPS (Global Positioning System)

Pengamatan menggunakan GPS (Global Positioning System) dilakukan di Sembilan lokasi yang berbeda. Berikut ini adalah hasil pengamatan menggunakan GPS.
NO
Ketinggian (m)
S (LS)
E (BT)
X
Y
Z
Elevasi
Der
Menit
detik
der
Menit
detik
1
24
4
0
50,7
122
32
24,8
122,5402
-4,0141
24
24
2
22
4
0
51,2
122
32
41,1
122,5448
-4,0142
22
22
3
22
4
0
45,8
122
32
23,3
122,5398
-4,0127
22
22
4
21
4
0
46,3
122
32
20,6
122,5391
-4,0129
21
21
5
21
4
0
47,9
122
32
15,4
122,5376
-4,0133
21
21
6
23
4
0
51,1
122
32
15,8
122,5377
-4,0142
23
23
7
24
4
0
54,4
122
32
16,2
122,5378
-4,0151
24
24
8
26
4
0
57,5
122
32
16,7
122,5380
-4,0160
26
26
9
27
4
0
56,4
122
32
21,2
122,5392
-4,0157
27
27
10
26
4
0
56,1
122
32
24,4
122,5401
-4,0156
26
26

Tabel 4.1 Data pengamatan GPS


Berdasarkan data di atas di ketahui bahwa setiap stasiun yang berbeda mempunya data koordinat yang berbeda dengan interval pengambilan data + 50 – 100 m, dalam pengamatan menggunakan GPS ini terdapat titik-titik ketinggian yang berbeda beda, bahkan mungkin ada yang sama yang menandakan terdapat relief-relief bumi yang berbeda beda
Data yang telah di peroleh dengan menggunakan GPS kemudian dibuat kontur agar diketahui reliefnya dan lintasan yang dilalui selamanya pengukuran. Untuk membuat kontur lapangan yang telah di ukur menggunakan GPS nilai koordinat South dan East di konfersi kedalam UTM dengan menggunakan rumus yang telah di tentukan dan di dapatkan kontur pada gambar berikut

 









 Gambar 4.1 peta kontur hasil pengamatan













              Gambar 4.1.1 peta kontur hasil pengamatan dalam bentuk 3d




Dengan membuat gambar kontur seperti gambar di atas kita dapat melihat keadaan dan relief permukaan yang telah kita lalui sebanyak 10 stasiun dengan titik koordinat yang berbeda – beda dengan ketinggian yang beragam. Dengan  melihat garis konturnya kita dapat mengetahui daerah yang memiliki topografi rendah, tinggi maupun curam, garis kontur yang saling berdekatan menunjukan bahwa daerah tersebut memiliki toporgafi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya dan garis kontur yang jarang menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki topografi yang lebih rendah dari daerah sekitarnya atau topografi datar.
Meskipun tinggi rendahnya daerah tersebut sangat sedikit perbedaannya, namun sudah jelas terdapat perbedaan tinggi rendahnya daerah tersebut

4.2  Waterpass

pengamatan menggunakan waterpass dilakukan didua tempat/titik berbeda dan pada dua tempat tersebut mendapatkan hasil yang berbeda beda.
Berikut hasil yang didapatkankan

No
Tinggi alat
Jarak (m)
B.atas
B.tengah
B.bawah
Tiang pengukuran
Beda tinggi
1
1,17
30
11,1
9,1
8,1
9,6
-8,43
2
1,20
30
11,8
10,2
8,8
10,3
-9,1
             
Table 4.2 data pengamatan menggunakan waterpass

Dari gambar Tabel diatas, telah ditemukan bahwa pada dua tempat tersebut terdapat titik-titik yang berbeda beda, pada titik pertama didapatkan jarak sekitar ±30 m dan jarak pada rambu-rambu ukurpun ±30 meter. Dan dari dua tempat tersebut didapatkan tinggi  yang berbeda, misalnya pada titik yang pertama 1,17 meter, sedangkan lokasi kedua yaitu 1,20 meter. Untuk lokasi pertama, Nilai yang diperoleh pada pengukuran benang atas, benang tengah, dan benang bawah memiliki selisih yang sama antara benang atas dan benang tengah, begitu pula antara benang tengah dan benang bawah yaitu 1 meter. Dari pengukuran benang atas, benang tengah dan benang bawah ini dapat diperoleh dua data yang baru yaitu tiang pengukuran yang diperoleh dengan cara setengah dari cara menjumlahkan nilai benang atas dan benang bawah perdua sehingga hasilnya 9,1 meter untuk lokasi pertama dan 10,2 meter untuk lokai kedua. Data yang lain yang diperoleh lagi yaitu beda tinggi, dimana beda tinggi dapat menentukan daerah permukaan tanah yang mengalami penaikan atau penurunan, hasil yang diperoleh yaitu -8,43 untuk lokasi pertama yang berarti permukaan tanah lokasi ini mengalami penurunan.  Sedangkan beda tinggi untuk lokasi kedua yaitu -9,1 yang berarti daerah permukaan tanah lokasi ini mengalami penurunan juga. Dengan adanya perbedaan hasil pengukuran perbedaan ketinggian menggunakan waterpass di dapati bahwa di dua titik pengamatan mempunya beda keinggian yang kecil atau topografi datar di titi titik pengukuran tersebut.
4.3 Thedolit
No
Tinggi alat
H
V
derajat
Menit
detik
derajat
menit
detik
1
1.42
246
32
45
91
34
40
2
1.44
219
7
30
92
19
40

B.A
B.T
B.B
H
V (zerit)
m
beda tinggi
jarak datar
12.8
11.3
9.8
246.55
91.58
1.58
-1.62
29.99
8.6
7
5.4
219.13
92.33
2.33
7.43
29.98
 
            Table 4.3 data pengamatan menggunakan theodolit
Berdasarkan data di atas yang di ukur menggunakan Teodolit dengan frekuensi pengukuran sebanyak dua titik, penggunaan theodolit sebenarnya hamper sama dengan waterpass, hanya saja penggunaannya lebih simple dari waterpass yaitu tidak perlu mengukur jauh rambu yang dipasang seprti yang dilakukan oleh waterpass  sehingga tidak perlu mengukur mengukur kembali, setelah penggunaan theodolit dilakukan dan didapatkan dua titik yang berbeda  didapat pula beda tinggi bernilai Minus (-) artinya daerah pengukuran semakin menurun dari alat ukur Teodolite dengan tiang ukur yang di pasang 30 meter di depan alat ukur.





























BAB V
KESIMPULAN

5.1  kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum lapangan Geomorfologi menggunakan GPS, Teodolit dan Waterpass ini, adalah sebagai berikut:
1.    merupakan alat yang di pakai di lapangan untuk mengetahui posisi dan daerah tempat kita melakukan pengamatan dengan titik koordinat dengan system pengambilan data dari beberapa satelit yang terhubung dengan GPS. Pada saat pertama menggunakan Gps, terdapat ketinggian yang tidak pasti karna mengalami penaikan dan penurunan, yang disebabkan langit langit yang tertutup awan  dan itu menandakan daerah yang tertutup sangat berpengaru terhadap sinyal yang di tangkap oleh Gps. Teodolit dan Waterpass merupakan alat pengamatan yang di gunakan di lapangan untuk menentukan perbedaan ketinggian suatu topografi wilayah yang sedang di amati. Penggunaan alat ini juga sangat penting di perthatikan agar dalam pengamatan kita mendapatkan data yang akurat sebagai bahan yang kemudian akan di analisis lebih lanjut.
2.    Titik koordinat suatu wilayah dapat di tentukan dengan menggunkan GPS. GPS merupakan alat yang menggunakan satelit untuk menentukan koordinat suatu wilayah, alat ini juga memberikan pencitraan non foto yang sangat bergunaa di lapangan karena alat ini juga menggambarkan rute yang telah di lalui selama pengamatan di lapangan.
3.    Pengukuran menggunakan Teodolit dan Waterpass hampir sama hanya saja dalam alat Teodolit dapat di tentukan nilai lintang dan bujur yang di tunjukkan dalam koordinat.