KEMENTERIAN
RISET, DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
HALUOLEO
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
GANESA BAHAN GALIAN NIKEL LATERIT DAERAH
MOTUI
KAB. KONAWE UTARA PROV. SULAWESI TENGGARA
LAPORAN LAPANGAN
OLEH
KELOMPOK
2
IRNALDI
KUSUMA JAYA ( F1B213033)
AGUS
PANJI VERDHA (F1B213003)
MARIANI ( F1B213043)
WA
ISRA (
F1B213075)
MUHAMMAD
NURDIN (F1B213053)
FAISAL (F1B213021)
KENDARI
2014
KEMENTRIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU
OLEO
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI
TEKNIK PERTAMBANGAN
STUDI GENESA BAHAN GALIAN NIKEL LATERITE DIDAERAH MOTUI
KABUPATEN KONAWE UTARA PROPINSI SULAWESI TENGGARA
LAPORAN
LAPANGAN
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meluluskan
mata kuliah Genesa Bahan Galian pada Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Halu Oleo
OLEH
IRNALDI
KUSUMA JAYA ( F1B213033)
AGUS
PANJI VERDHA (F1B213003)
MARIANI ( F1B213043)
WA
ISRA (
F1B213075)
MUHAMMAD
NURDIN (F1B213053)
FAISAL (F1B213021)
KENDARI
2014
KEMENTRIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU
OLEO
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
STUDI GENESA BAHAN GALIAN NIKEL
LATERITE DIDAERAH MOTUI
KABUPATEN KONAWE UTARA PROPINSI
SULAWESI TENGGARA
Telah Disetujui.
|
Dosen Pembimbing
Muh. Chaerul,ST.,SKM.,M.Sc.
|
Asisten
Jeni Rahmat
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada
penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Laporan Lapangan Field Trip Genesa
Bahan Galian ini yang syukur dan alhamdulillah selesai tepat pada
waktunya.
Dalam proses penyusunan laporan ini,
penulis banyak mengalami kesulitan. Namun berkat bantuan dan bimbingan dari
beberapa pihak, terutama kepada yang terhormat dosen pembimbing Genesa Bahan
Galian Bapak Muh. Chaerul, ST. SKM.,M.Sc.
serta kepada para asisten yang memberikan bimbingan dan koreksi sehingga
laporan ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima
kasih serta penghargaan sebesar-besarnya, dan semoga Tuhan yang maha Esa dapat
melimpahkan Rahmat-Nya atas segala amal yang dilakukan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal
sampai akhir. Semoga Tuhan yang maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha yang
telah dilakukan.
Kendari, November 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Hal Judul…………………………………………………………………………………..……….
Hal
Tujuan……...…………………………………………………………………………..……...
Hal
Tujuan…………………………………………………………………………………………
Kata Pengantar……………………………………………..…………………………………….
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………………….
1.2 Maksud dan Tujuan………………………………………………………………………….
1.3 Waktu, Letak dan Kesampaian
Daerah……………………………………………………
1.4 Alat dan
Bahan……………………………………………………………………………….
1.5 Peneliti
Terdahulu……………………………………………………………………………
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Endapan
Laterit………………………………………………………………………………
2.1.1 Genesa Pembentukan endapan nikel
laterite………………………………………
2.1.2
Profil Endapan Nikel Laterit………………………………………………………….
2.2 Geologi
Regional……………………………………………………………………………..
2.2.1 Geomorfologi Regional………………………………………………………………..
2.2.2 Statigrafi
Regional…………………………………………………………………….
2.2.3 Struktur
Regional……………………………………………………………………...
BAB 3
METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN
3.1 Metode
Penelitian…………………………………………………………………………….
3.2 Tahapan Pengambilan Data Dilapangan…………………………………………………..
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Deskripsi
Sampel………………..………………………………….........................
4.2
Pembahasan………………………………………………………………………………….
BAB V
GENESA PEMBENTUKAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH PENELITIAN
BAB
VI PENUTUP
6.1
Kesimpulan……………………………………………………………………………………………..
6.2
Saran……………………………………………………………………………………………………
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sulawesi dan
daerah sekitarnya terletak pada pertemuan tiga lempeng yang saling bertabrakan;
Lempeng Benua Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat
dan Lempeng Australia-Hindia yang bergerak ke utara, sehingga kondisi tektoniknya sangat
kompleks, dimana kumpulan
batuan dari busur kepulauan, batuan bancuh, ofiolit, dan bongkah dari
mikrokontinen terbawa bersama proses penunjaman, tubrukan, serta proses tektonik
lainnya. Adapun struktur geologi yang berkembang didominasi
sesar-sesar mendatar, dimana
mekanisme pembentukan struktur geologi Sulawesi bisa dijelaskan dengan
model simple shear.
Pulau Sulawesi adalah pulau di negara Indonesia
yang mempunyai batuan penyusun paling kompleks diantara batuan penyususun
pulau-pulau yang lain. Dari beberapa provinsi di wilayah
Sulawesi itu sendiri , salah satu daerah yang memiliki struktur geologi yang
kompleks adalah Sulawesi tenggara. Daerah Sulawesi tenggara merupakan bagian
dari kepingan benua kepulauan. Meski demikian ada beberapa daerah yang temasuk
dalam Sulawesi tenggara yang struktur geologinya masih berkaitan erat dengan
proses-proses geologi yang ada di mandala timur yang terkenal dengan kompleks
ofiolitnya.
Telah banyak
para ilmuan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang memiliki rasa
ingin tahu yang besar tentang batuan penyusun daerah Sulawesi Tenggara. Hal ini
tidak terlepas dari pengetahuan awal dari asumsi bahwa daerah-daerah yang
dilalui atau dekat dengan jalur ring of
fire pasti memiliki batuan penyusun
serta kandungan mineral ekonomis yang beragam. Olehnya itu, mahasiswa kebumian
yang baru harus pula mengikuti jejak para peneliti terdahulu salah satunya
dengan meneliti langsung batuan penyusun daerah Sulawesi Tenggara. Dilakukannya
praktikum lapangan supaya mahasiswa kebumian dapat mengamati sendiri singkapan
batuan, dan dapat menegetahui mineral apa saja yang terkandung dalam batuan
sehingga dapat menjelaskan genesa dan karakteristik batuan dengan benar
berdasarkan pengematan yang dilakukan dilapangan.
Kabupaten Konawe Utara terkenal akan kandungan laterit nikel yang melimpah
dengan batuan asal, adalah batuan beku ultrabasa. Dari fakta tersebut,
mahasiswa yang melakukan praktikum akan melihat langsung kandungan laterit
nikel pada daerah penelitian yang juga telah menjad lahan terbuka pertambangan
nikel di Kabuoaten Konawe Utara.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum lapangan Genesa Bahan Galian adalah untuk mengetahui Genesa Bahan Galian
Nikel Laterit Daerah Motui Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara.
Adapun tujuan dari praktikum lapangan Genesa Bahan Galian adalah sebagai berikut :
Jenis
bahan galian
Menetukan
genesa bahan galian
Menentukan
penyebaran batuan
1. Dapat menjelaskan
proses pembentukan nikel laterit di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara
berdasarkan bed rock yang telah diidentifikasi.
2.
Dapat menjelaskan kandungan mineral
pada sampel saprolit dan limonit pada area pertambangan di Kecamatan Motui
Kabupaten Konawe Utara.
1.3 Letak, Waktu dan Kesampaian daerah
Praktikum lapangan Genesa Bahan Galian dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 29 November 2014.
Perjalanan ke lapangan di Desa Matandahi
kecamatan Motui, dimulai dari pelataran Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo pukul 7.45 WITA
menggunakan 1 (satu) unit truk dan 3 (tiga) unit angkutan kota. Untuk sampai pada posisi start di lapangan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Di lapangan terdapat
6 singkapan batuan yang akan diideskripsi serta sebuah lahan pertambangan untuk
mengambil sampel saprolit dan limonit. Semua peserta praktikan beserta dosen
dan asisten pendamping berjalan menuju stasiun 1 dengan waktu sekitar 10 menit.
Dari stasiun 1 menuju stasiun 2 membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Dari stasiun
2 menuju stasiun 3 membutuhkan waktu sekitar 7 menit. Dari stasiun 3 menuju
stasiun 4 membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Dari stasiun 4 menuju stasiun 5
membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan yang terakhir sebelum sampai pada tempat
peristirahatan yaitu dari stasiun 5 ke stasiun 6 membutuhkan waktu sekitar 10
menit. Tepat pukul 11.35 samua praktikan, dosen dan asisten telah sampai di
balai desa Bende sebagai tempat istirahat. Identifikasi perstasiun membutuhkan
waktu sekitar 5-10 menit. Sekitar pukul 13.00, perwakilan dari tiap-tiap
kelompok ditemani beberapa asisten pendamping pergi menuju area pertambangan
untuk mengambil sampel saprolit dan limonit untuk di suplit.
1.4 Alat dan bahan
1.4.1 Tabel alat dan bahan
|
1.
|
Kompas
|
Sebagai alat
penunjuk arah, penentuan strike, dip,dan arah penyebaran batuan
|
|
2.
|
Palu Geologi
|
Sebagai alat untuk
mengambil sampel
|
|
3.
|
GPS
|
Sebagai alat untuk
menentukan titik koordinat
|
|
4.
|
Spidol
|
Sebagai alat untuk menulis keterangan sampel
|
|
5.
|
Kantong Sampel
|
Wadah untuk
menyimpan sampel berupa batuan
|
|
6.
|
Karung
|
Wadah untuk mengumpulkan
sampel yang telah di Identifikasi
|
|
7.
|
Buku Lapangan
|
Untuk menulis hasil
identifikasi batuan.
|
|
9.
|
Klip Board
|
Sebagai penyangga
kompas.
|
|
11.
|
Laptop
|
Untuk menulis data
lapangan dan laporan lapangan.
|
|
12
|
HCL
|
Untuk mendeteksi
kandungan mineral karbonat pada batuan
|
1.5
Peneliti Terdaluhu
Adapun nama-nama peneliti terdahulu adalah sebagai berikut :
1. Rusman, E Sukido, Sukarna. D. Haryono, E,
Simanjuntak T.O 1993. Keterangan Peta Geologi lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi
Tenggara, skala 1 : 250.000
2. Surono dan Bachri S., 2001 Stratigraphy,
Sedimentation, and Paleogeographic Significance of the Triassic Meluhu
pormation, southeast arm of Sulawesi, eastern Indonesia Geological research and
development center.
3. Sukamto, R. 1975. Struktural of Sulawesi in
the light of Plate Tektonik. Dept. of Mineral and Energi.
4. Surono, 2013. Geologi lengan Tenggara
Sulawesi. Badan geologi. Kementrian energi dan sumber daya mineral.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Endapan Laterit
2.1.1 Genesa pembentukan endapan nikel laterit
Proses
pembentukan nikel laterit diawali dari proses pelapukan batuan ultrabasa, dalam
hal ini adalah batuan harzburgit. Batuan ini banyak mengandung olivin,
piroksen, magnesium silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil dan
mudah mengalami proses pelapukan.
Faktor kedua
sebagai media transportasi Ni yang terpenting adalah air. Air tanah yang kaya
akan CO2, unsur ini berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan mengurai
mineral-mineral yang terkandung dalam batuan harzburgit tersebut. Kandungan olivin,
piroksen,magnesium silikat, besi, nikel dan silika akan terurai dan membentuk
suatu larutan, di dalam larutan yang telah terbentuk tersebut, besi akan
bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida.
Endapan ferri
hidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan air pada
endapan tersebut akan mengubah ferri hidroksida menjadi mineral-mineral seperti
goethite (FeO(OH)),hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineral-mineral tersebut sering
dikenal sebagai “besi karat”. Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan
permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di
dalam larutan dan bergerak turun selama suplai air yang masuk ke dalam tanah
terus berlangsung. Rangkaian proses ini merupakan proses pelapukan dan
leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur tambahan di dalam batuan ultrabasa.
Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur Ni berada dalam ikatan serpentine
group. Rumus kimia dari kelompok serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X
tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn atauMn atau
dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, dalam
hal berupa kekar, maka Ni yang terbawa oleh air turun ke bawah, lambat laun
akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat turun lagi dan tidak dapat
menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni yang berasosiasi dengan Mg, SiO
dan H akan membentuk mineral garnieritdengan rumus kimia (Ni,Mg)Si4O5(OH)4.
Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah
proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan supergen ini
terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil laterit dapat
juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut dapat terjadi
karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari perubahan musim. Dibawah
zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer yang tidak
terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai
zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan Harzburgit.
Faktor-faktor
Utama Pembentukan Endapan Nikel Laterit
1. Batuan asal merupakan syarat utama untuk
terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan
ultrabasa. Dalam hal ini pada batuan ultrabasa tersebut : terdapat elemen Ni
yang paling banyak diantara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang
paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin, mempunyai
komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang
baik untuk nikel.
2. Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan
musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga
dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur.
Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan
mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah
proses atau reaksi kimia pada batuan.
3. Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang
dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang
membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang
peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan
dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan dan erat kaitannya dengan vegetasi
daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan : penetrasi air dapat lebih
dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, akumulasi air
hujan akan lebih banyak, humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu
petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan
nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi
dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
4. Struktur yang sangat dominan adalah
struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti
diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali
sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan
tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan
lebih intensif.
5. Topografi. setempat akan sangat
mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang
landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai
kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau
pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang
landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan
mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air
yang meluncur lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan
pelapukan kurang intensif.
6. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan
pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
2.1.2
Profil
endapan Nikel laterit
Gambar 2.1 Profil endapan nikel laterit
2.2
Geologi Regional
2.2.1 Geomorfologi Regional
Pulau Sulawesi, yang mempunyai luas sekitar 172.000 km2
(van Bemmelen, 1949), dikelilingi oleh laut yang cukup dalam.Sebagian besar
daratannya dibentuk oleh pegunungan yang ketinggiannya mecapai 3.440 m (gunung
Latimojong). Seperti telah diuraikan sebelumnya, Pulau Sulawesi berbentuk huruf
“K” dengan empat lengan: Lengan Timur memanjang timur laut – barat daya, Lengan
Utara memanjang barat – timur dengan ujung baratnya membelok kearah utara –
selatan, Lengan tenggrara memanjang barat laut – tenggara, dan Lengan Selatan
mebujur utara selatan. Keempat lengan tersebut bertemu pada bagian tengah
Sulawesi.
Sebagian besar Lengan Utara bersambung dengan Lengan Selatan
melalui bagian tengah Sulwesi yang merupakan pegunungan dan dibentuk oleh
batuan gunung api. Di ujung timur Lengan Utara terdapat beberapa gunung api
aktif, di antaranya Gunung Lokon, Gunung Soputan, dan Gunung Sempu. Rangakaian
gunung aktif ini menerus sampai ke Sangihe.Lengan Timur merupakan rangkaian
pegunungan yang dibentuk oleh batuan ofiolit.Pertemuan antara Lengan Timur dan
bagian Tengah Sulawesi disusun oleh batuan malihan, sementara Lengan Tenggara
dibentuk oleh batuan malihan dan batuan ofiolit.
Seperti yang telah di uraikan sebelumnya,pulau Sulawesi
dan daerah sekitarnya merupakan pertemuan tiga lempeng yang aktif
bertabrakan.Akibat tektonik aktif ini,pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya
dipotong oleh sesar regional yang masih aktif sampai sekarang.Kenampakan
morfologi dikawasan ini merupakan cerminan system sesar regional yang memotong
pulau ini serta batuan penyusunya bagian
tenga Sulawesi,lengan tenggara,dan lengan selatan dipotong oleh sesar regional
yang umumnya berarah timur laut – barat daya. sesar yang masih aktif sampai
sekarang ini umumnya merupakan sesar geser mengiri.
2.2.1.1 Morfologi
Van bemmelen (1945) membagi lengan tenggara Sulawesi
menjadi tiga bagian: ujung utara, bagian tengah,dan ujung selatan (gambar 4.2),
Ujung utara mulai dari palopo sampai teluk tolo; dibentuk oleh batuan ofiolit,
Bagian tengah ,yang merupakan bagian paling lebar (sampai 162,5 km), didominasi
oleh batuan malihan dan batuan sedimen mesozoikum. Ujung selatan lengan
tenggara merupakan bagian yang relative lebih landai ; batuan penyusunya
didominasi oleh batuan sedimen tersier ,uraian dibawah ini merupakan perian
morfologi dan morfogenesis lengan tengah Sulawesi.
2.2.1.2 Ujung utara
Ujung utara lengan tenggara Sulawesi mempunyai cirri khas
de3ngan munculnya kompleks danau malili yang
terdiri atas danau matano,danau towuti,dan tiga danau kecil disekitarnya
(danam mahalona,danau lantoa, dan danau masapi; (gambar 4.2). Pembentuka kelima
danau itu diduga akibat sistem system sesar matano,yang telah diketahui sebagai
sesar geser mengiri. Pembedaan ketinggian dari kelima danau itu memungkinkan
air dari suatu danau mengalir ke danau yang terletak lebih rendah.
2.2.1.3 Bagian Tengah
Morfologi bagian tengah Lengan Tenggara Sulawesi
didominasi oleh pegunungan yang umumnya memanjang hampir sejajar berarah barat
laut - tenggara. Pegunungan tersebut diantaranya adalah Pegunungan Mengkoka,
Pegunungan Tangkelamboke, dan Pegunungan Matarombeo. Morfologi bagian tengah
ini sangat kasar dengan kemiringan lereng yang tajam. Puncak tertinggi pada
rangkaian pegunungan Mengkoka adalah Gunung Mengkoka yang mempunyai ketinggian
2790 m dpl. Pegunungan Tangkelamboke mempunyai puncak Gunung Tangkelamboke
(1500 m dpl). Sedangkan Pegunungan Matarombeo berpuncak di barat laut Desa
Wawonlondae dengan ketinggian 1551 m dpl.
2.2.1.4 Satuan Morfologi
Setidaknya ada lima satuan morfologi yang dapat dibedakan
dari citra IFSAR bagian tengah dan ujung selatan Lengan Tenggara Sulawesi,
yakni satuan pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, dataran rendah,
dan karst. Uraian di bawah ini merupakan perian secara singkat dari kelima
satuan morfologi tersebut.
1. Satuan
Pegunungan
Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di
kawasan ini, terdiri atas Pegunungan Mengkoka, Pegunungan Tangkelemboke,
Pegunungan Mendoke dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung selatan Lengan
Tenggara. Satuan morfologi ini mempunyai topografi yang kasar dengan kemiringan
lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini mempunyai pola yang hampir
sejajar berarah barat laut – tenggara. Arah ini sejajar dengan pola struktur
sesar regional di kawasan ini. Pola ini mengindikasikan bahwa pembentukan
morfologi pegunungan itu erat hubungannya dengan sesar regional.
Satuan pegunungan terutama dibentuk oleh batuan malihan
dan setempat oleh batuan ofiolit. Ada perbedaan yang khas di antara kedua
penyusun batuan itu. Pegunungan yang disusun oleh batuan ofiolit mempunyai
punggung gunung yang panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta
kemiringan yang tajam. Sementara itu, pegunungan yang dibentuk oleh batuan
malihan, punggung gunungnya terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak
rata walaupun bersudut tajam.
2. Satuan
Perbukitan Tinggi
Satuan morfologi
perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara, terutama di selatan
Kendari. Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 m dpl
dengan morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi ini berupa batuan sediman
klastika Mesozoikum dan Tersier.
a.
Satuan Perbukitan Rendah
Satuan morfologi
perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan ujung selatan Lengan
Tenggara Sulawesi. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan
morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama batuan sedimen
klastika Mesozoikum dan Tersier
b.
Satuan Dataran
Satuan morfologi dataran rendah dijumpai di bagian tengah
ujung selatan Lengan Tenggara Sulawesi. Tepi selatan Dataran Wawotobi dan
Dataran Sampara berbatasan langsung dengan satuan morfologi pegunungan.
Penyebaran satuan dataran rendah ini tampak sangat dipengaruhi oleh sesar geser
mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konaweha). Kedua sistem ini diduga masih
aktif, yang ditunjukkan oleh adanya torehan pada endapan aluvial dalam kedua
dataran tersebut (Surono dkk, 1997). Sehingga sangat mungkin kedua dataran itu
terus mengalami penurunan. Akibat dari penurunan ini tentu berdampak buruk pada
dataran tersebut, di antaranya pemukiman dan pertanian di kedua dataran itu
akan mengalami banjir yang semakin parah setiap tahunnya.
Dataran Langkowala yang melampar luas di ujung selatan
Lengan Tenggara, merupakan dataran rendah. Batuan penyusunnya terdiri atas
batupasir kuarsa dan konglomerat kuarsa Formasi Langkowala. Dalam dataran ini
mengalir sungai-sungai yang pada musim hujan
berair melimpah sedang pada musim kemarau kering. Hal ini mungkin
disebabkan batupasir dan konglomerat sebagai dasar sungai masih lepas, sehingga
air dengan mudah merembes masuk ke dalam tanah. Sungai tersebut di antaranya
Sungai Langkowala dan Sungai Tinanggea. Batas selatan antara Dataran Langkowala
dan Pegunungan Rumbia merupakan tebing terjal yang dibentuk oleh sesar berarah
hampir barat-timur. Pada Dataran Langkowala, terutama di dekat batas tersebut,
ditemukan endapan emas sekunder. Surono (2009) menduga emas tersebut berasal
dari batuan malihan di Pegunungan Rumbia dan sekitarnya.
c.
Satuan Karst
Satuan morfologi karst melampar di beberapa tempat secara
terpisah. Satuan ini dicirikan perbukitan kecil dengan sungai di bawah
permukaan tanah. Sebagian besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi
oleh batugamping berumur Paleogen dan selebihnya batugamping Mesozoikum.
Batugamping ini merupakan bagian Formasi Tampakura, Formasi Laonti, Formasi
Tamborasi dan bagian atas dari Formasi Meluhu. Sebagian dari batugamping
penyusun satuan morfologi ini sudah terubah menjadi marmer. Perubahan ini erat
hubungannya dengan pensesar-naikkan ofiolit ke atas kepingan benua. Di sekitar
Kendari batugamping terubah tersebut ditambang untuk bahan bangunan.
ii.
Statigrafi
Regional
Nama Formasi
Meluhu diberikan oleh Rusmana & Sukarna (1985) kepada satuan batuan yang
terdiri batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau, dan batulumpur di bagian
bawah; dan perselingan serpih hitam, batupasir, dan batugamping di bagian atas.
Formasi Meluhu menindih takselarasan batuan malihan dan ditindih takselaras
oleh satuan batugamping Formasi Tampakura.
Formasi Meluhu
mempunyai penyebaran yang sangat luas di Lengan Tenggara Sulawesi.Formasi ini
telah dipublikasikan secara luas; di antaranya oleh Surono dkk.(1992); Surono
(1997b, 1999), serta Surono & Bachri (2002), Sebagian besar bahasan
selanjutnya merupakan terjemahan dan/atau kompilasi dari publikasi tersebut.
Surono (1997b) membagi Formasi Meluhu
menjadi tiga anggota (dari bawah ke atas):
1.
Anggota Toronipa yang didominasi oleh batupasir dan
konglomerat,
2.
Anggota Watutaluboto didominasi oleh batulumpur,
batulanau, dan serpih,
3.
Anggota tuetue dicirkan oleh hadirnya napal dan batu gamping.
Anggota toronipa formasi meluhu
didominasi batupasir dan konglomerat dengan sisipan serpih, batulanau dan
batulempung. Sisipan tipis lignit ditemukan setempat seperti di sungai kecil
dekat Mesjid Nurul Huda, Kota kendari dan Tebing tepi jalan di selatan tinobu.
Lokasi tipe anggota toronipa berada di tanjung toronipa, sebelah tenggara desa
toronipa. Penampang tegak hasil pengukuran statigrafi terperinci di tanjung
toronipa. Dibeberapa tempat, batupasir pejal tersingkap baik dan diduga
merupakan hasil pengendapan grain flow. Secara setempat, batupasir kerikilan
sering dijumpai diatas permukaan bidang erosi. Ketebalan anggota toronipa pada
lokasi tipe tersebut adalah 800 m. Ketebalan maksimum anggota ini diduga kearah
timur.
Struktur sedimen yang terekam pada
anggota toronipab erupa silang siur, tikas seruling, gelembur gelombang,
perlapisan bersusun, dan permukaan erosi. Batang, ranting dan atau cetakan
daun juga ditemukan pada endapan klastik
halus. Setiap runtunan batuan sedimen menunjukan penghalusan keatas, yang
menunjukan energi melemah kearah atas. Semua fakta dilapangan ini memberikan
gambaran bahwa anggota toronipa diendapkan pada lingkungan sungai kekelok. Arah
arus purba, yang sebagian diukur pada silang siur, menunjukan hasil
kecendrungan unimodal. Kondisi seperti ini umum ditemui pada arus sungai
kekelok.
iii.
Struktur
Regional
Lengan tenggara Sulawesi, struktur
utama yang terbentuk setelah tumbukan adalah sesar geser mengiri, termasuk sesar matarombeo,
sistem sesar Lawanopo (yang berasosiasi dengan batuan campur-aduk toreo),
sistem sesar Konaweha, sesar kolaka, dan banyak sesar lainnya serta liniasi.
Sesar dan liniasi menunjukkan sepasang arah utama tenggara-barat laut (3320),
dan timur laut barat daya (420). Arah tenggara barat laut merupakan
arah umum dari sesar geser mengiri dilengan tenggara sulawesi.
Sistem sesar Lawanopo termasuk sesar-sesar berarah utama
barat laut-tenggara yang memanjang sekitar 260 Km dari Utara Malili sampai
tanjung Toronipa. Ujung barat laut sesar ini menyambung dengan sesar Matano,
sementara ujung tenggaranya bersambung dengan sesar Hamilton, Yang memotong
sesar naik Tolo. Sistem sesar ini diberi nama sesar Lawanopo oleh Hamilton
(1979) bedasarkan dataran Lawanopo yang ditorehnya.
Kenampakan fisiografi sistem sesar
Lawanopo tergambar jelas lebih dari pada 50 Km pada citra pengindraan jauh,
termasuk citra langsat dan IFSAR. Citra tersebut menggambarkan adanya lembar
linear panjang, scap, offset, dan pembelokan aliran sungai. Aliran sungai yang
tergeser mengiri dapat diidentifikasi dibeberapa tempat antara Tinobu, dan
soropia, utara kendari; contohnya pergeseran mengiri 2 Km sungai Andonohu
(selatan Tinobu). Jarak pergeseran, yang membesar semakin besar dengan sesar
yang bersangkutan, merupakan tanda sesar geser (silvester, 1988). Pergeseran
Mengiri sepanjang Formasi Meluhu yang berada ditengah lengan tenggara Sulawesi.
Interprestasi citra foto udara
disekitar Tinobu menunjukan penyebaran batuan campur-aduk Toreo. Kepingan
batuan yang berasal dari Formasi Meluhu, Formasi Tampakura, dan ofiolit,
dijumpai sebagai bodin dalam batuan campur-aduk itu. Analisis stereografi
orientasi bodin, yang diukur pada tiga lokasi, menunjukan keberagaman azimuth
rata-rata/plunge: 30o 44o, 356,3o/49o,
dan 208,7o/21o.
Adanya mata air panas di Desa Toreo,
sebelah tenggara Tinobu serta pergeseran pada bangunan dinding rumah dan jalan
sepanjang sesar ini menunjukan bahwa sistem sesar Lawanopu masih aktif sampai
sekarang.
Lengan Sulawesi tenggara juga merupakan
kawasan pertemuan lempeng, yakni lempeng benua yang berasal dari Australia dan
lempeng samudra dari Pasifik. Kepingan benua di Lengan Tenggara Sulawesi
dinamai Mintakat Benua Sulawesi Tenggara (South
East Sulawesi Continental Terrane) dan Mintakat Matarambeo oleh Surono
(1944). Kedua lempeng dari jenis yang berbeda ini bertabrakan dan kemudian
ditindih oleh endapan Molasa Sulawesi. Bahasan selanjutnya akan mengikuti pola
sebelum tarbrakan dan setelah tabrakan tersebut yakni :
1.
Kepingan Benua
2.
Kompleks Ofiolit
3.
Molasa Sulawesi
Sebagai akibat subduksi dan tumbukan
lempeng pada Oligosen Akhir-Miosen Awal, kompleks ofiolit tersesar–naikkan ke
atas mintakat benua.
Molasa sulawesi,
yang terdiri atas batuan sedimen klastik dan karbonat, terendapkan selama akhir
dan sesudah tumbukan, sehingga, molasa ini menindih takselaras Mintakat Benua
Sulawesi Tenggara dan Kompleks Ofiolit tersebut. Pada akhir kenomikum lengan
ini di koyak oleh Sesar Lawanopo dan beberapa pasangannya, termasuk Sesar
Kolaka.
BAB
III
METODE
DAN TAHAPAN PENELITIAN
3.1. Metode
Penelitian
Adapun
metode yang di gunakan pada field trip Genesa Bahan Galian kali ini yaitu :
Observasi langsung dilapangan (Teknik
pengumpulan data dengan observasi).
Teknik observasi merupakan metode
pengumpulan data dengan mengamati langsung dilapangan. Proses ini berlangsung
dengan pengamatan yang meliputi melihat, merekam, menghitung, mengukur, dan
mencatat kejadian. Observasi bisa dikatakan merupakan kegiatan yang meliputi
pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian,
perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal hal lain diperlukan dalam mendukung
penelitin yang sedang dilakukan. Pada tahap awal observasi dilakukan secara
umum, peneliti mengumpulkan data atau informasi sebannyak mungkin. Tahap
selanjutnya peneliti harus melakukan observasi yang terpokus, yaitu mulai
menyempitkan data atau informasi yang diperlukan sehingga peneliti dapat
menentukan pola-pola perilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi. Jika hal
itu sudah diketemukan, maka peneliti dapat menemukan tema-tema yang akan
diteliti.
3.2.
Tahapan Pengambilan Data di Lapangan
Adapun
tahapan yang di gunakan dalam pengambilan data di lapangan yaitu :
1. Tahapan menyampling yaitu tahapan mengambil
sampel di lapangan dengan menggunakan
palu geologi, selanjutnya melakukan pengukuran strike dan dip serta menentukan
arah penyebaran batuanya dengan melihat arah strike dan dip yang di ukur di
setiap stasiun. Setelah itu, memplot arah penggambaran dengan menggunakan
kompas geologi. Setelah itu mengukur kedudukan singkapan dengan menggunakan
GPS.
2. Tahapan selanjutnya sampel yang di dapat di
masukan dalam kantong sampel dan di tulis perstasiun. Setelah itu, sampel yang
di dapat di identifikasi bedasarkan
jenis batuanya. Tahapan pengidentifikasianya yaitu :
I.
Data
singkapan berupa pengukuran titik koordinat, arah penyebaran, insitu, dan
hubunganya dengan batuan sekitarnya
II.
Data
litologi berupa jenis batuan warna lapuk, warna segar, tekstur, struktur serta
komposisi mineral dan nama batuan.
III.
Data
geomorfologi berupa relief, tipe morfologi, tingkat pelapukan, sungai, soil,
tata guna lahan dan stadia daerah
IV.
Data
struktur berupa lapisan, lipatan foliasi, kekar dan sesar.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Deskripsi Sampel
Adapun
hasil deskripsi sampel pada field trip Genesa Bahan Galian kali ini yaitu:
Gambar 4.1 : Singkapan Batugamping kristalin
Stasiun I di jumpai dengan jenis
batuan sedimen dengan data singkapan yang memiliki titik koordinat S 030,50’,01,2’’ dan E 1220,25’49,8’’ dengan proses pelapukannya yang secara insitu dan memiliki dimensi (2×2 m) dan
data litologinya jenis batuan sedimen yang memiliki warna segar hitam serta
warna lapukya abu-abu dengan tekstur non klastik serta meiliki struktur
kristalin dengan komposisi mineral kuarsa dan kalsit. Nama batuan ini yaitu
Batugamping Kristalin.
Gambar 4.2 : Singkapan Batu Gneis
Singkapan pada stasiun II di jumpai
jenis batuan metamorf pada titik koordinat
S 030,50’ 06,63’’ dan E 1220
25’47,5’’, yang memiliki warna segar abu-abu kehijauan dengan warna lapuk
coklat. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik dengan jenis granoblastik,
dan memiliki struktur non foliasi. Batuan ini tersusun atas mineral-mineral
seperti biotit, kuarsa dan plagioklas. Dari identifikasi di atas nama batuan
ini yaitu Gneis.
Gambar 4.3 : Singkapan Batu Gneis
Distasiun III di jumpai jenis batuan
metamorf pada kordinat S 050,20”,6,63’’ dan E 1220, 75’,33,9’’. Batuan ini memiliki warna
segar hitam keabu-abuan dan warna lapuknya coklat, tekstur dari batuan ini
yaitu kristaloblastik (Granoblastik) srta memiliki struktur foliasi
(gneistosa). Batuan ini tersusun atas mineral-mineral piroksin, kuarsa, hornblende dan plagioklas. Dari identifikasi
di atas nama batuan ini yaitu Gneiss
Gambar 4.4 : Singkapan Batu Gneiss
Stasiun IV di temukan singkapan dengan jenis batuan metamorf
pada titik koordinat S 030,50’2,1’’ dan E 1220
26’01,8’’. Batuan ini memiliki warna segar abu-abu kehijaun dan warna lapuknya
yaitu coklat. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik (granoblastik) dengan
struktur foliasi (gnestosa), batuan
ini memiliki komposisi mineral seperti
piroksin, biotit, kuarsa dan plagioklas. Dari identifikasi sifat fisik batuan
maka dapat ditentukan nama batuanya yaitu Gneiss
Gambar 4.5 : Singkapan BatuanPeridotit
Stasiun V di jumpai singkapan batuan dengan jenis batuan
beku yang terletak pada titik koordinat S 03050’ 14,0’’ dan E 1220
65’15,8’’. Batuan ini memiliki warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuknya
yaitu kuning kecoklatan. Batuan ini memiliki tekstur kristalinitas
holokristalin dengan granularitas faneritik dan memiliki febrik dengan bentuk
subhedral serta relasi yang equigranular, dengan struktur masif Batuan ini
memiliki komposisi mineral piroksin, kuarsa, plagioklas,bitit dan horblende.
Dari sifat fisik batuan yang telah diketahui maka dapat di tentukan nama batuannya yaitu Peridotit
Gambar 4.6 : Singkapan Batuan Peridotit
Stasiun VI di jumpai jenis batuan beku dengan titik
koordinat S 030,50’,04,5’’ dan E 1220 26’,16,6’’. Batuan ini memiliki warna
segar abu-abu kehijauan dengan warna lapuk coklat denga tekstur kristalinitas
holokrastalin, granularitas faneritik, febrik dengan bentuk subhedral denga
relasi equigranular. Batuan ini memiliki komposisi mineral seperti biotit,
kuarsa dan horblende dengan struktur masif. Berdasarkan hasil identifikasi
batuan nama batuan ini yaitu Peridotit
Stasiun VII di jumpai dengan jenis
endapan laterit sparolot denga limonit, dimana limonit memiliki komposisi
mineral seperti hematit (domonan), silikia, giotit dan kromit. Pada endapan
saprolit yang memiliki komposisi mineral Hematit (sedikit), silika, Giotit
(dominan) dan kromit.
4.2. Pembahasan
Hasil identifikasi
sampel yang di lakukan pada stasiun I dengan jenis batuan sedimen yang memiliki
warna segar hitam dan warna lapuknya yaitu abu-abu dengan tekstur non klastik
karena dapat bereaksi dengan HCl serta tanpa melalui proses transportasi dan
hanya mengalami pengendapan yang secara insitu. Batuan ini memiliki struktur
kristalin karena pada tubuh batuan tersusun dari beberapa mineral. Batuan ini memiliki komposisi mineral kuarsa dan kalsit.
Berdasarkan hasil identifikasi di atas nama batuan ini yaitu batugamping
kristalin.
Identifikasi sampel
pada stasiun II dengan jenis batuan metamorf yang memiliki warna lapuk coklat
dan warna segar abu-abu kehijauan dengan tekstur kristaloblasti yakni sudah
tidak memperlihatkan batuan asalnya dengan golongan granoblasti dimana ukuran
butirya yang seragam. Batuan ini memiliki struktur foliasi karena terdapatnya penjajaran mineral pada tubuh abatuan ini, dengan golongan gneistosa yakni terdapat
mineral mika dan mineral yang granular tetapi mineral pipihnya tidak menerus.
Komposisi mineral dari batuan ini yaitu biotit, kuarsa, dan plagioklas.
Identifikasi sampel
pada batuan stasiun III dengan dengan jenis batuan metamorf memiliki warna
segar abu-abu kehitaman dan warna
lapuknya yaitu coklat yang memiliki tekstur Kristaloblastik yakni pada batuan
ini tidak sama sekali memperlihatkan batuan asalnya dengan
golongan granoblastik yakni dimana ukuran butir pada batuan ini yaitu
seragam dengan struktur foliasi yakni terdapatnya penjejeran mineral pada tubuh
batuan ini dengan golongan gneistosa yakni pada batuan ini terdapat mineral
mika dan granular tetapi orientasi mineral pipihnya tidak menerus atau
terputus.
Identifikasi sampel pada batuan stasiun IV
dengan dengan jenis batuan metamorf memiliki warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuknya yaitu
coklat yang memiliki tekstur Kristaloblastik yakni pada batuan ini tidak sama
sekali memperlihatkan batuan asalnya dengan golongan
granoblastik yakni dimana ukuran butir pada batuan ini yaitu seragam dengan
struktur foliasi yakni terdapatnya penjejeran mineral pada tubuh batuan ini
dengan golongan gneistosa yakni pada batuan ini terdapat mineral mika dan
granular tetapi orientasi mineral pipihnya tidak menerus atau terputus.
Identifikasi sampel
yang di jumpai pada stasiun V dengan jenis batuan beku yang memiliki warna segar abu-abu
kehijauan dan memiliki warna lapuk yaitu
kuning kecoklatan. Batuan ini memiliki tekstur kristalinitas dimana
kristalinitas itu sendiri yaitu keadaan proporsi antara masa kristal dan masa
gelas dalam batuan dengan golongan holokristalin yakni batuan ini tersusun oleh
kebanyakan masa kristal dan masa dasar yang sedikit, dengan granularitas dimana
granularitas yaitu ukuran butir kristal batuan beku yang tergolong faneritik
semua masa kristalnya dapat dilihat dengan mata telanjang secara langsung.
Batuan ini memiliki febrik dimana febrik itu sendiri yaitu hubungan antar butir
penyusun batuan, dengan bentuk subhedral yakni batuan ini tersusun dari bentuk
kristal dari butiran mineral di batasi oleh sebagian bidang kristal yang
sempurna, batuan ini termasuk dalam relasi equigranular yakni batuan ini
memiliki ukuran butir yang seragam. Batuan ini memiliki struktur masif yakni
tidak menunjukan adanya batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya. Jenis batuan
ini memiliki komposisi mineral piroksin yang memiliki warna hitam mengkilat
dengan bentuk mineral memipih, kuarsa yang berwarna putih dengan bentuk mineral
prismatik, plagioklas dengan warna putih tulang dengan bentuk mineral
prismatik, biotit dengan warna hitam, dengan bentuk membutir, dan horblende
yang berwarna hitan dengan bentuk mineral prismatik panjang. Berdasarkan hasil
identifikasi diatas nama batuan ini yaitu peridotit
Identifikasi sampel
yang di jumpai pada stasiun VI dengan jenis batuan beku yang memilik warna
segar abu-abu kehijauan dan memilik warna lapuk yaitu coklat. Batuan ini
memiliki tekstur kristalinitas dimana kristalinitas itu sendiri yaitu keadaan
proporsi antara masa kristal dan masa gelas dalam batuan dengan golongan
holokristalin yakni batuan ini tersusun oleh kebanyakan masa kristal dan masa
dasar yang sedikit, dengan granularitas dimana granularitas yaitu ukuran butir
kristal batuan beku yang tergolong faneritik semua masa kristalnya dapat
dilihat dengan mata telanjang secara langsung. Batuan ini memiliki febrik
dimana febrik itu sendiri yaitu hubungan antar butir penyusun batuan, dengan
bentuk subhedral yakni batuan ini tersusun dari bentuk kristal dari butiran
mineral di batasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna, batuan ini
termasuk dalam relasi equigranular yakni batuan ini memiliki ukuran butir yang
seragam. Jenis batuan ini memiliki komposisi mineral piroksin yang memiliki
warna hitam mengkilat dengan bentuk mineral memipih, kuarsa yang berwarna putih
dengan bentuk mineral prismatik, plagioklas dengan warna putih tulang dengan
bentuk mineral prismatik, biotit dengan warna hitam, dengan bentuk membutir,
dan hornblende yang berwarna hitam dengan bentuk mineral prismatik
panjang. Berdasarkan hasil identifikasi diatas nama batuan ini yaitu peridotit.
Distasiun VII diambil sampel saprolit dan limonit. Kedua sampel
tersebut di suplit sehingga didapatkan sampel yang lebih halus. Cara menyuplit
itu sendiri diawali dengan menghamparkan sampel diatas plastik atau karung lalu
dibagi menjadi empat bagian. Dipilih dan dibuang bagian yang paling banyak
material kasarnya secara menyilang. Cara ini dilakukan sebanyak dua kali.
Sampel hasil suplitan dimasukkan didalam kantung sampel dan akan diidentifikasi
lagi kandungan mineralnya.
Dari identifikasi
secara cerat pada sampel, maka dapat dilihat pada sampel limonit mengandung mineral
primer hematit (Fe3O2) dan mineral sekunder silika dan
cromit. Adapun sampel saprolit mengandung mineral primer guetit (Fe(OH)2) dan mineral
sekunder silika dan kromit serta miineral tersier hematit.
BAB V
GENESA PEMBENTUKAN
ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH PENELITIAN
Pembentukan endapan nikel laterit di daerah penelitian di
pengaruhi oleh ofiolit. Ofiolit
merupakan kompleks batuan dengan berbagai karakteristik dari layer ultramafik,
dengan ketebalan dari beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer bersusun
atau berlapis dengan batuan gabro dan batuan dolerite, dan pada bagian atasnya
tersusun oleh pillow lava dan breksi, sering berasosiasi dengan batuan sediment
pelagic (Ringwood, 1975). Sedangkan menurut Hutchison (1983), ofiolit merupakan
kumpulan khusus dari batuan mafik-ultramafik dengan batuan beku sedikit kaya
asam sodium dan khas berasosiasi dengan batuan sediment laut dalam.
Ofiolit
diinterprestasikan sebagai kerak samudera dan batuan tektonik mantel bagian atas
dan akhirnya membentuk daratan (Penrose, 1972; coleman 1977 dalam Clague dan
Straley, 1977). Menurut Hutchison (1983), bahwa susunan ideal ofiolit terdiri
dari rangkaian beberapa karakteristik batuan. Pada perkembangan lengkap
ofiolit, tipe batuannya tersusun dari bawah ke atas. Yaitu :
a. Kompleks ultramafik, terdiri atas
harsburgit, lerzolit dan dunit, biasanya dengan batuan metamorfik akibat
tektonik (umumnya serpetinit).
b. Kompleks gabro, biasanya membentuk layer –
layer dengan tekstur kumulus, berisi peridotit kumulus dan piroksenit dan lebih
sedikit terubah dibandingkan dengan kompleks ultramafik.
c. Kompleks dike, terdiri atas dike diabas
membentuk zona pemisah pad dasar palgiogranit samapi gabro dan saling
bertampalan dengan ekstrusif lava bantal. (kompleks dike tidak selalu hadir).
d. Kompleks vulkanik mafik, umumnya terdiri
dari pillow lava (lava bantal).
e. Pada bagian atas assemblage (kumpulan
batuan) tersebut, kemudian berasosiasi dengan batuan sediment pelagis yang
secara khas meliputi fasies laut dalam seperti rijang, serpih dan batugamping
mikrit.
Batuan
ultramfik merupakan batuan yang kaya mineral mafik (mineral ferromagnesia)
dengan komposisi utama batuannya adalah mineral olivine, piroksen, hornblende,
mika dan biotit, sehingga batuan ultramafik memilki indeks warna >79% dan
sebagian besar berasal dari plutonik (Waheed 2002).
Proses
pembentukan komples ofiolit pada daerah penelitian menjadikan batuan ultrabasa
seperti peridotit dan dunit terangkat keatas sehingga membentuk suatu bentang
lahan. Dari proses yang dipengaruhi cuaca dan iklim, maka mineral-mineral yang
terkandung pada batuan ultrabasa tersebut akan mengalami leaching, yaitu
tercucinya mineral-mineral tersebut oleh air yang menyerap kedalam tanah
terutama mineral-mineral yang mudah larut. Dari proses inilah,unsure nikel
sebagai salah satu unsure yang memiliki massa yang berat, akan turun kebawah
sehingga membentuk lapisan limonit dan samprolit yang dapat dilihat pada area
pertambangan laterit nikel di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara.
BAB VI
PENUTUP
6.1
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil pembahsan
laporan ini adalah sebagai berikut
-
Endapan
laterit yang terdapat di kecamatan Motui kabupaten konawe utara dipengaruhi oleh ofiolit batuan
beku ultrabasa. Batuan tersebut mengalami leaching sehingga mineral-mineral
yang ada pada batuan yang mengandung unsur Ni akan terendapakan dibawah unsur
lain. Akhirnya terbentuklah lapisan limonit dan saprolit seperti yang terlihat
di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara.
-
Dari
kegiatan menyuplit sampel saprolit dan limonit, dan deskripsi cerat pada sampel
tersebut, maka kandungan mineral pada
saprolit adalah Hematit sebagai mineral utama, silica, dan kromit sebagai
mineral sekunder. Sedangkan kandungan mineral geotit, silica, kromit dan
hematite sebagai mineral tersier.
6.2
Saran
Saran kami sebagai praktikan salah satunya
adalah dalam hal penggunaan GPS dalam field trip sebaiknya digunakan juga oleh
praktikan, tidak hanya digunakan oleh asisten. Mengingat, masih banyak
praktikan yang belum paham menggunakan GPS. Selain itu, kami menyarankan kepada
para pembaca agar mencari informasi yang lebih detail terkait dengan judul
laporan ini. Mengingat keterbatasan kami sebagai praktikan yang awam dalam hal
praktikum Genesa Bahan Galian. Sekian dan terimakasih.
LAMPIRAN
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No.
Stasiun : 1
Data Singkapan
Dijumpai
singkapan jenis batuan sedimen yang memiliki titik koordinat S 030
50’ 01,2” , E 1220 25’ 49,8” secara insitu dengan dimensi (2×2 m).
Data Litologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan sedimen dengan warna segar hitam dan warna lapuk
abu-abu. Teksturnya non klastik serta
strukturnya tergolong kristalin. Adapaun komposisi mineralnya adalah kuarsa dan
kalsit. Nama batuannya adalah batugamping kristalin.
Data
Geomorfologi
Dijumpai jenis
batuan sedimen dengan jenis refief curam, tipe morfomogi perbukitan, tingkat
pelapukan rendah, jenis tanah residual, tata guna lahan sebagai pemukiman dan
perkebunan,vegeasi pohon jati.
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 2
Data Singkapan
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan titik koordinat S 030 50’
0,66” , E 1220 25’ 47,5” dengan dimensi 3×15 m dan secara insitu.
Data Litologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna
lapuk coklat. Tekstur ksristaloblastik (granoblastik) dan struktur non
folisasi. Komposisi mineralnya adalah biotit, kuarsa, dan plagioklas. Nama
batuannya adalah gneis.
Data
geomorfologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan relief sedang tipemorfologi perbukitan,
tingkat pelapukan tinggi, tata guna lahan sebagai pemukiman dan jalanan, tebal
soil ±1 meter.
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 3
Data singkapan
Dijumpai
singkapan jenis metamorf dengan titik koordinat S 030 50’ 20,0” , E
1220 75’ 33,9”. Dimensi 7×7 m insitu, dengan arah penyebaran timur
menenggara kebarat-barat laut.
Data litologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar hitam keabu-abuan dengan
warna lapuk coklat. Tekstur ksristaloblastik (granoblastik) dan struktur
folisasi. Komposisi mineralnya adalah piroksin,kuarsa,horblende, plagio. Nama
batuannya adalah gneis.
Data
Geomorfologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan relief rendah tipe morfologi perdataran
marine, soil bersifat insitu , residual ± 30 cm. Dimana struktur berfoliasi (N
1210 E)
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 4
Data Singkapan
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan titik koordinat S 030 50’
2,1” , E 1220 26’ 10,8” secara insitu dengan dimensi 5×10 meter
dengan arah penyebaran tenggara ke barat daya.
Data Litologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna
lapuk coklat. Tekstur kristaloblastik (granoblastik) dan struktur foliasi
(gneistosa). Komposisi mineralnya adalah piroksen, kuarsa, biotit, plagioklas.
Nama batuannya adalah gneiss.
Data
geomorfologi
Memiliki relief
curam dengan ketebalan soil ± 1 m. Tingkat pelapukan tinggi dan tata guna lahan
sebagai pemukiman.
Data stuktur
Berfoliasi (N
1240 E/ 670)
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 5
Data Singkapan
Dijumpai
singkapan jenis batuan beku dengan titik koordinat S 030 50’ 14,0” ,
E 1220 26’ 15,8” dengan dimensi 3×15 m. Terbentuk secara insitu.
Data litologi
Dijumpai jenis
batuan beku dengan warna lapuk kuning kecoklatan dan warna segar abu-abu
kehijauan. Tekstur dari batuan tersebut adalah kristalinitas holokriatalin,
granularitas faneritik, relasi equigranular, bentuk mineral euhedral. Komposisi
mineral piroksen, kuasa, plagioklas, biotiti, hornblende. Struktur batuan
masif. Nama batuan adalah peridotit.
Data
geomorfologi
Jenis relief
curam, tipe morfologi perbukitan memiliki tingkat pelapukan tinggi serta tata
guna lahan perkebunan. Jenis soil residual dengan ketebalan ± 30 cm.
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 6
Data Singkapan
Dijumpai
singkapan jenis batuan beku dengan titik koordinat S 030 50’ 04,5” ,
E 1220 26’ 16,6” dengan dimensi 2×10 m . terbentuk secara insitu
dengan hubungan yang selaras.
Data litologi
Dijumpai
singkapan jenis batuan beku dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna
lapuk coklat. Kristalinitas holokristalis, granularitasnya faneritik, bentuk
mineral suhedra, dengan relasi inequigranular. Komposisi mineralnya adalah
piroksen, kuarsa, hornblende. Nama batuannya adalah peridotit.
Data geomorfologi
Dijumpai jenis
batuan beku dengan relief curam, tipe morfologi perbukitan, jenis pelapukan
tinggi, soil residual, memiliki tata guna lahan sebagai daerah tambang nikel
dan perkebunan.
Acara :
Field Trip Genesa Bahan Galian Cuaca : Cerah
Hari/Tanggal :
Sabtu / 29 November 2014 No. Stasiun : 7
Data Sampel
Sampel I Limonit
Komposisi
mineral yang kaya Hematit, serta mineral sekunder silika dan geotiti dan
kromit.
Sampel II
Saprolit
Komposisi
mineral yang kaya akan Geotiti, serta mineral sekunder silika dan kromit, dan
mineral tersier hematit.