Jumat, 09 Januari 2015

Laporan Lengkap prkatikum ganesa bahan galian di daerah motui kolaka utara

KEMENTERIAN RISET, DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALUOLEO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


GANESA BAHAN GALIAN NIKEL LATERIT DAERAH MOTUI
KAB. KONAWE UTARA PROV. SULAWESI TENGGARA

LAPORAN LAPANGAN


OLEH
KELOMPOK 2

IRNALDI KUSUMA JAYA          ( F1B213033)
AGUS PANJI VERDHA             (F1B213003)
MARIANI                                  ( F1B213043)
WA ISRA                                  ( F1B213075)
MUHAMMAD NURDIN             (F1B213053)
FAISAL                                     (F1B213021)



KENDARI
2014




KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN




STUDI GENESA BAHAN GALIAN NIKEL LATERITE DIDAERAH MOTUI
KABUPATEN KONAWE UTARA PROPINSI SULAWESI TENGGARA
LAPORAN LAPANGAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meluluskan mata kuliah Genesa Bahan Galian pada Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Halu Oleo


OLEH

IRNALDI KUSUMA JAYA          ( F1B213033)
AGUS PANJI VERDHA             (F1B213003)
MARIANI                                  ( F1B213043)
WA ISRA                                  ( F1B213075)
MUHAMMAD NURDIN             (F1B213053)
FAISAL                                     (F1B213021)








KENDARI
2014
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

STUDI GENESA BAHAN GALIAN NIKEL LATERITE DIDAERAH MOTUI
KABUPATEN KONAWE UTARA PROPINSI SULAWESI TENGGARA




Telah Disetujui.







Dosen Pembimbing

Muh. Chaerul,ST.,SKM.,M.Sc.
Asisten

Jeni Rahmat






KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Laporan Lapangan Field Trip Genesa Bahan Galian ini yang syukur dan alhamdulillah selesai tepat pada waktunya.
Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis banyak mengalami kesulitan. Namun berkat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, terutama kepada yang terhormat dosen pembimbing Genesa Bahan Galian Bapak Muh. Chaerul, ST. SKM.,M.Sc. serta kepada para asisten yang memberikan bimbingan dan koreksi sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih serta penghargaan sebesar-besarnya, dan semoga Tuhan yang maha Esa dapat melimpahkan Rahmat-Nya atas segala amal yang dilakukan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan yang maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha yang telah dilakukan.







Kendari,  November 2014


Penulis
DAFTAR ISI
Hal Judul…………………………………………………………………………………..……….
Hal Tujuan……...…………………………………………………………………………..……...
Hal Tujuan…………………………………………………………………………………………
Kata Pengantar……………………………………………..…………………………………….
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang……………………………………………………………………………….
1.2  Maksud dan Tujuan………………………………………………………………………….
1.3  Waktu, Letak dan Kesampaian Daerah……………………………………………………
1.4  Alat dan Bahan……………………………………………………………………………….
1.5  Peneliti Terdahulu……………………………………………………………………………
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Endapan Laterit………………………………………………………………………………
2.1.1 Genesa Pembentukan endapan nikel laterite………………………………………
2.1.2  Profil Endapan Nikel Laterit………………………………………………………….
2.2 Geologi Regional……………………………………………………………………………..
2.2.1 Geomorfologi Regional………………………………………………………………..
2.2.2 Statigrafi Regional…………………………………………………………………….
2.2.3 Struktur Regional……………………………………………………………………...
BAB 3 METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian…………………………………………………………………………….
3.2 Tahapan Pengambilan Data Dilapangan…………………………………………………..
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Deskripsi Sampel………………..………………………………….........................
4.2 Pembahasan………………………………………………………………………………….


BAB V GENESA PEMBENTUKAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH PENELITIAN
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………..
6.2 Saran……………………………………………………………………………………………………
LAMPIRAN



























BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sulawesi dan daerah sekitarnya terletak pada pertemuan tiga lempeng yang saling bertabrakan; Lempeng Benua Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat dan Lempeng Australia-Hindia yang bergerak ke utara, sehingga kondisi  tektoniknya  sangat  kompleks,  dimana kumpulan batuan  dari  busur kepulauan,  batuan bancuh,  ofiolit, dan bongkah  dari  mikrokontinen  terbawa  bersama proses  penunjaman, tubrukan, serta proses tektonik lainnya. Adapun struktur geologi yang berkembang  didominasi  sesar-sesar  mendatar,  dimana  mekanisme pembentukan struktur geologi Sulawesi bisa dijelaskan dengan model simple shear.
Pulau Sulawesi adalah pulau di negara Indonesia yang mempunyai batuan penyusun paling kompleks diantara batuan penyususun pulau-pulau yang lain. Dari beberapa provinsi di wilayah Sulawesi itu sendiri , salah satu daerah yang memiliki struktur geologi yang kompleks adalah Sulawesi tenggara. Daerah Sulawesi tenggara merupakan bagian dari kepingan benua kepulauan. Meski demikian ada beberapa daerah yang temasuk dalam Sulawesi tenggara yang struktur geologinya masih berkaitan erat dengan proses-proses geologi yang ada di mandala timur yang terkenal dengan kompleks ofiolitnya.
Telah banyak para ilmuan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang batuan penyusun daerah Sulawesi Tenggara. Hal ini tidak terlepas dari pengetahuan awal dari asumsi bahwa daerah-daerah yang dilalui atau dekat dengan jalur ring of fire  pasti memiliki batuan penyusun serta kandungan mineral ekonomis yang beragam. Olehnya itu, mahasiswa kebumian yang baru harus pula mengikuti jejak para peneliti terdahulu salah satunya dengan meneliti langsung batuan penyusun daerah Sulawesi Tenggara. Dilakukannya praktikum lapangan supaya mahasiswa kebumian dapat mengamati sendiri singkapan batuan, dan dapat menegetahui mineral apa saja yang terkandung dalam batuan sehingga dapat menjelaskan genesa dan karakteristik batuan dengan benar berdasarkan pengematan yang dilakukan dilapangan.
Kabupaten Konawe Utara terkenal akan kandungan laterit nikel yang melimpah dengan batuan asal, adalah batuan beku ultrabasa. Dari fakta tersebut, mahasiswa yang melakukan praktikum akan melihat langsung kandungan laterit nikel pada daerah penelitian yang juga telah menjad lahan terbuka pertambangan nikel di Kabuoaten Konawe Utara.

1.2   Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum lapangan Genesa Bahan Galian adalah untuk mengetahui Genesa Bahan Galian Nikel Laterit Daerah Motui Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara.
Adapun tujuan dari praktikum lapangan Genesa Bahan Galian adalah sebagai berikut :
Jenis bahan galian
Menetukan genesa bahan galian
Menentukan penyebaran batuan
1.       Dapat menjelaskan proses pembentukan nikel laterit di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara berdasarkan bed rock yang telah diidentifikasi.
2.       Dapat menjelaskan kandungan mineral pada sampel saprolit dan limonit pada area pertambangan di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara.

1.3   Letak, Waktu dan Kesampaian daerah
Praktikum lapangan Genesa Bahan Galian dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 29 November 2014. Perjalanan ke lapangan di Desa Matandahi kecamatan Motui, dimulai dari pelataran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo pukul 7.45 WITA menggunakan 1 (satu) unit truk dan 3 (tiga) unit angkutan kota. Untuk sampai pada posisi start di lapangan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Di lapangan terdapat 6 singkapan batuan yang akan diideskripsi serta sebuah lahan pertambangan untuk mengambil sampel saprolit dan limonit. Semua peserta praktikan beserta dosen dan asisten pendamping berjalan menuju stasiun 1 dengan waktu sekitar 10 menit. Dari stasiun 1 menuju stasiun 2 membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Dari stasiun 2 menuju stasiun 3 membutuhkan waktu sekitar 7 menit. Dari stasiun 3 menuju stasiun 4 membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Dari stasiun 4 menuju stasiun 5 membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan yang terakhir sebelum sampai pada tempat peristirahatan yaitu dari stasiun 5 ke stasiun 6 membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Tepat pukul 11.35 samua praktikan, dosen dan asisten telah sampai di balai desa Bende sebagai tempat istirahat. Identifikasi perstasiun membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Sekitar pukul 13.00, perwakilan dari tiap-tiap kelompok ditemani beberapa asisten pendamping pergi menuju area pertambangan untuk mengambil sampel saprolit dan limonit untuk di suplit.

1.4   Alat dan bahan
1.4.1 Tabel alat dan bahan
1.
Kompas
Sebagai alat penunjuk arah, penentuan strike, dip,dan arah penyebaran batuan
2.
Palu Geologi
Sebagai alat untuk mengambil sampel
3.
GPS
Sebagai alat untuk menentukan titik koordinat
4.
Spidol
Sebagai alat untuk menulis keterangan sampel
5.
Kantong Sampel
Wadah untuk menyimpan sampel berupa batuan
6.
Karung
Wadah untuk mengumpulkan sampel yang telah di Identifikasi
7.
Buku Lapangan
Untuk menulis hasil identifikasi batuan.
9.
Klip Board
Sebagai penyangga kompas.
11.
Laptop
Untuk menulis data lapangan dan laporan lapangan.
12
HCL
Untuk mendeteksi kandungan mineral karbonat pada batuan

1.5   Peneliti Terdaluhu
Adapun nama-nama peneliti terdahulu adalah sebagai berikut :
1.   Rusman, E Sukido, Sukarna. D. Haryono, E, Simanjuntak T.O 1993. Keterangan Peta Geologi lembar Lasusua-Kendari, Sulawesi Tenggara, skala 1 : 250.000
2.   Surono dan Bachri S., 2001 Stratigraphy, Sedimentation, and Paleogeographic Significance of the Triassic Meluhu pormation, southeast arm of Sulawesi, eastern Indonesia Geological research and development center.
3.   Sukamto, R. 1975. Struktural of Sulawesi in the light of Plate Tektonik. Dept. of Mineral and Energi.
4.   Surono, 2013. Geologi lengan Tenggara Sulawesi. Badan geologi. Kementrian energi dan sumber daya mineral.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Endapan Laterit
2.1.1    Genesa pembentukan endapan nikel laterit
Proses pembentukan nikel laterit diawali dari proses pelapukan batuan ultrabasa, dalam hal ini adalah batuan harzburgit. Batuan ini banyak mengandung olivin, piroksen, magnesium silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil dan mudah mengalami proses pelapukan.
Faktor kedua sebagai media transportasi Ni yang terpenting adalah air. Air tanah yang kaya akan CO2, unsur ini berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan mengurai mineral-mineral yang terkandung dalam batuan harzburgit tersebut. Kandungan olivin, piroksen,magnesium silikat, besi, nikel dan silika akan terurai dan membentuk suatu larutan, di dalam larutan yang telah terbentuk tersebut, besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida.
Endapan ferri hidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferri hidroksida menjadi mineral-mineral seperti goethite (FeO(OH)),hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineral-mineral tersebut sering dikenal sebagai “besi karat”. Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak turun selama suplai air yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian proses ini merupakan proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur tambahan di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur Ni berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari kelompok serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn atauMn atau dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, dalam hal berupa kekar, maka Ni yang terbawa oleh air turun ke bawah, lambat laun akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnieritdengan rumus kimia (Ni,Mg)Si4O5(OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan supergen ini terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil laterit dapat juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut dapat terjadi karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari perubahan musim. Dibawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan Harzburgit.
Faktor-faktor Utama Pembentukan Endapan Nikel Laterit
1.    Batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultrabasa. Dalam hal ini pada batuan ultrabasa tersebut : terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti olivin dan piroksin, mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
2.    Iklim. Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
3.    Reagen-reagen kimia dan vegetasi. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan dan erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan : penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, akumulasi air hujan akan lebih banyak, humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
4.    Struktur yang sangat dominan adalah struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih intensif.
5.    Topografi. setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
6.    Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
2.1.2          Profil endapan Nikel laterit
Gambar 2.1 Profil endapan nikel laterit
2.2   Geologi Regional
2.2.1    Geomorfologi Regional
Pulau Sulawesi, yang mempunyai luas sekitar 172.000 km2 (van Bemmelen, 1949), dikelilingi oleh laut yang cukup dalam.Sebagian besar daratannya dibentuk oleh pegunungan yang ketinggiannya mecapai 3.440 m (gunung Latimojong). Seperti telah diuraikan sebelumnya, Pulau Sulawesi berbentuk huruf “K” dengan empat lengan: Lengan Timur memanjang timur laut – barat daya, Lengan Utara memanjang barat – timur dengan ujung baratnya membelok kearah utara – selatan, Lengan tenggrara memanjang barat laut – tenggara, dan Lengan Selatan mebujur utara selatan. Keempat lengan tersebut bertemu pada bagian tengah Sulawesi.
Sebagian besar Lengan Utara bersambung dengan Lengan Selatan melalui bagian tengah Sulwesi yang merupakan pegunungan dan dibentuk oleh batuan gunung api. Di ujung timur Lengan Utara terdapat beberapa gunung api aktif, di antaranya Gunung Lokon, Gunung Soputan, dan Gunung Sempu. Rangakaian gunung aktif ini menerus sampai ke Sangihe.Lengan Timur merupakan rangkaian pegunungan yang dibentuk oleh batuan ofiolit.Pertemuan antara Lengan Timur dan bagian Tengah Sulawesi disusun oleh batuan malihan, sementara Lengan Tenggara dibentuk oleh batuan malihan dan batuan ofiolit.
Seperti yang telah di uraikan sebelumnya,pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya merupakan pertemuan tiga lempeng yang aktif bertabrakan.Akibat tektonik aktif ini,pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya dipotong oleh sesar regional yang masih aktif sampai sekarang.Kenampakan morfologi dikawasan ini merupakan cerminan system sesar regional yang memotong pulau ini serta batuan penyusunya  bagian tenga Sulawesi,lengan tenggara,dan lengan selatan dipotong oleh sesar regional yang umumnya berarah timur laut – barat daya. sesar yang masih aktif sampai sekarang ini umumnya merupakan sesar geser mengiri.
2.2.1.1    Morfologi
Van bemmelen (1945) membagi lengan tenggara Sulawesi menjadi tiga bagian: ujung utara, bagian tengah,dan ujung selatan (gambar 4.2), Ujung utara mulai dari palopo sampai teluk tolo; dibentuk oleh batuan ofiolit, Bagian tengah ,yang merupakan bagian paling lebar (sampai 162,5 km), didominasi oleh batuan malihan dan batuan sedimen mesozoikum. Ujung selatan lengan tenggara merupakan bagian yang relative lebih landai ; batuan penyusunya didominasi oleh batuan sedimen tersier ,uraian dibawah ini merupakan perian morfologi dan morfogenesis lengan tengah Sulawesi.
2.2.1.2    Ujung utara
Ujung utara lengan tenggara Sulawesi mempunyai cirri khas de3ngan munculnya kompleks danau malili yang  terdiri atas danau matano,danau towuti,dan tiga danau kecil disekitarnya (danam mahalona,danau lantoa, dan danau masapi; (gambar 4.2). Pembentuka kelima danau itu diduga akibat sistem system sesar matano,yang telah diketahui sebagai sesar geser mengiri. Pembedaan ketinggian dari kelima danau itu memungkinkan air dari suatu danau mengalir ke danau yang terletak lebih rendah.
2.2.1.3    Bagian Tengah
Morfologi bagian tengah Lengan Tenggara Sulawesi didominasi oleh pegunungan yang umumnya memanjang hampir sejajar berarah barat laut - tenggara. Pegunungan tersebut diantaranya adalah Pegunungan Mengkoka, Pegunungan Tangkelamboke, dan Pegunungan Matarombeo. Morfologi bagian tengah ini sangat kasar dengan kemiringan lereng yang tajam. Puncak tertinggi pada rangkaian pegunungan Mengkoka adalah Gunung Mengkoka yang mempunyai ketinggian 2790 m dpl. Pegunungan Tangkelamboke mempunyai puncak Gunung Tangkelamboke (1500 m dpl). Sedangkan Pegunungan Matarombeo berpuncak di barat laut Desa Wawonlondae dengan ketinggian 1551 m dpl.
2.2.1.4    Satuan Morfologi           
Setidaknya ada lima satuan morfologi yang dapat dibedakan dari citra IFSAR bagian tengah dan ujung selatan Lengan Tenggara Sulawesi, yakni satuan pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, dataran rendah, dan karst. Uraian di bawah ini merupakan perian secara singkat dari kelima satuan morfologi tersebut.
1.       Satuan Pegunungan
Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini, terdiri atas Pegunungan Mengkoka, Pegunungan Tangkelemboke, Pegunungan Mendoke dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung selatan Lengan Tenggara. Satuan morfologi ini mempunyai topografi yang kasar dengan kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini mempunyai pola yang hampir sejajar berarah barat laut – tenggara. Arah ini sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola ini mengindikasikan bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat hubungannya dengan sesar regional.
Satuan pegunungan terutama dibentuk oleh batuan malihan dan setempat oleh batuan ofiolit. Ada perbedaan yang khas di antara kedua penyusun batuan itu. Pegunungan yang disusun oleh batuan ofiolit mempunyai punggung gunung yang panjang dan lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta kemiringan yang tajam. Sementara itu, pegunungan yang dibentuk oleh batuan malihan, punggung gunungnya terputus pendek-pendek dengan lereng yang tidak rata walaupun bersudut tajam.
2.       Satuan Perbukitan Tinggi
Satuan morfologi perbukitan tinggi menempati bagian selatan Lengan Tenggara, terutama di selatan Kendari. Satuan ini terdiri atas bukit-bukit yang mencapai ketinggian 500 m dpl dengan morfologi kasar. Batuan penyusun morfologi ini berupa batuan sediman klastika Mesozoikum dan Tersier.
a.                         Satuan Perbukitan Rendah
Satuan morfologi perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan ujung selatan Lengan Tenggara Sulawesi. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama batuan sedimen klastika Mesozoikum dan Tersier
b.                         Satuan Dataran         
Satuan morfologi dataran rendah dijumpai di bagian tengah ujung selatan Lengan Tenggara Sulawesi. Tepi selatan Dataran Wawotobi dan Dataran Sampara berbatasan langsung dengan satuan morfologi pegunungan. Penyebaran satuan dataran rendah ini tampak sangat dipengaruhi oleh sesar geser mengiri (Sesar Kolaka dan Sistem Sesar Konaweha). Kedua sistem ini diduga masih aktif, yang ditunjukkan oleh adanya torehan pada endapan aluvial dalam kedua dataran tersebut (Surono dkk, 1997). Sehingga sangat mungkin kedua dataran itu terus mengalami penurunan. Akibat dari penurunan ini tentu berdampak buruk pada dataran tersebut, di antaranya pemukiman dan pertanian di kedua dataran itu akan mengalami banjir yang semakin parah setiap tahunnya.
Dataran Langkowala yang melampar luas di ujung selatan Lengan Tenggara, merupakan dataran rendah. Batuan penyusunnya terdiri atas batupasir kuarsa dan konglomerat kuarsa Formasi Langkowala. Dalam dataran ini mengalir sungai-sungai yang pada musim hujan  berair melimpah sedang pada musim kemarau kering. Hal ini mungkin disebabkan batupasir dan konglomerat sebagai dasar sungai masih lepas, sehingga air dengan mudah merembes masuk ke dalam tanah. Sungai tersebut di antaranya Sungai Langkowala dan Sungai Tinanggea. Batas selatan antara Dataran Langkowala dan Pegunungan Rumbia merupakan tebing terjal yang dibentuk oleh sesar berarah hampir barat-timur. Pada Dataran Langkowala, terutama di dekat batas tersebut, ditemukan endapan emas sekunder. Surono (2009) menduga emas tersebut berasal dari batuan malihan di Pegunungan Rumbia dan sekitarnya.

c.                         Satuan Karst
Satuan morfologi karst melampar di beberapa tempat secara terpisah. Satuan ini dicirikan perbukitan kecil dengan sungai di bawah permukaan tanah. Sebagian besar batuan penyusun satuan morfologi ini didominasi oleh batugamping berumur Paleogen dan selebihnya batugamping Mesozoikum. Batugamping ini merupakan bagian Formasi Tampakura, Formasi Laonti, Formasi Tamborasi dan bagian atas dari Formasi Meluhu. Sebagian dari batugamping penyusun satuan morfologi ini sudah terubah menjadi marmer. Perubahan ini erat hubungannya dengan pensesar-naikkan ofiolit ke atas kepingan benua. Di sekitar Kendari batugamping terubah tersebut ditambang untuk bahan bangunan.
                         ii.      Statigrafi Regional
Nama Formasi Meluhu diberikan oleh Rusmana & Sukarna (1985) kepada satuan batuan yang terdiri batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau, dan batulumpur di bagian bawah; dan perselingan serpih hitam, batupasir, dan batugamping di bagian atas. Formasi Meluhu menindih takselarasan batuan malihan dan ditindih takselaras oleh satuan batugamping Formasi Tampakura.
Formasi Meluhu mempunyai penyebaran yang sangat luas di Lengan Tenggara Sulawesi.Formasi ini telah dipublikasikan secara luas; di antaranya oleh Surono dkk.(1992); Surono (1997b, 1999), serta Surono & Bachri (2002), Sebagian besar bahasan selanjutnya merupakan terjemahan dan/atau kompilasi dari publikasi tersebut.
Surono (1997b) membagi Formasi Meluhu menjadi tiga anggota (dari bawah ke atas):
1.                   Anggota Toronipa yang didominasi oleh batupasir dan konglomerat,
2.                   Anggota Watutaluboto didominasi oleh batulumpur, batulanau, dan serpih,
3.                   Anggota tuetue dicirkan oleh hadirnya napal dan batu gamping.
Anggota toronipa formasi meluhu didominasi batupasir dan konglomerat dengan sisipan serpih, batulanau dan batulempung. Sisipan tipis lignit ditemukan setempat seperti di sungai kecil dekat Mesjid Nurul Huda, Kota kendari dan Tebing tepi jalan di selatan tinobu. Lokasi tipe anggota toronipa berada di tanjung toronipa, sebelah tenggara desa toronipa. Penampang tegak hasil pengukuran statigrafi terperinci di tanjung toronipa. Dibeberapa tempat, batupasir pejal tersingkap baik dan diduga merupakan hasil pengendapan grain flow. Secara setempat, batupasir kerikilan sering dijumpai diatas permukaan bidang erosi. Ketebalan anggota toronipa pada lokasi tipe tersebut adalah 800 m. Ketebalan maksimum anggota ini diduga kearah timur.
Struktur sedimen yang terekam pada anggota toronipab erupa silang siur, tikas seruling, gelembur gelombang, perlapisan bersusun, dan permukaan erosi. Batang, ranting dan atau cetakan daun  juga ditemukan pada endapan klastik halus. Setiap runtunan batuan sedimen menunjukan penghalusan keatas, yang menunjukan energi melemah kearah atas. Semua fakta dilapangan ini memberikan gambaran bahwa anggota toronipa diendapkan pada lingkungan sungai kekelok. Arah arus purba, yang sebagian diukur pada silang siur, menunjukan hasil kecendrungan unimodal. Kondisi seperti ini umum ditemui pada arus sungai kekelok.
                        iii.      Struktur Regional
Lengan tenggara Sulawesi, struktur utama yang terbentuk setelah tumbukan adalah sesar  geser mengiri, termasuk sesar matarombeo, sistem sesar Lawanopo (yang berasosiasi dengan batuan campur-aduk toreo), sistem sesar Konaweha, sesar kolaka, dan banyak sesar lainnya serta liniasi. Sesar dan liniasi menunjukkan sepasang arah utama tenggara-barat laut (3320), dan timur laut barat daya (420). Arah tenggara barat laut merupakan arah umum dari sesar geser mengiri dilengan tenggara sulawesi.
Sistem sesar Lawanopo termasuk sesar-sesar berarah utama barat laut-tenggara yang memanjang sekitar 260 Km dari Utara Malili sampai tanjung Toronipa. Ujung barat laut sesar ini menyambung dengan sesar Matano, sementara ujung tenggaranya bersambung dengan sesar Hamilton, Yang memotong sesar naik Tolo. Sistem sesar ini diberi nama sesar Lawanopo oleh Hamilton (1979) bedasarkan dataran Lawanopo yang ditorehnya.
            Kenampakan fisiografi sistem sesar Lawanopo tergambar jelas lebih dari pada 50 Km pada citra pengindraan jauh, termasuk citra langsat dan IFSAR. Citra tersebut menggambarkan adanya lembar linear panjang, scap, offset, dan pembelokan aliran sungai. Aliran sungai yang tergeser mengiri dapat diidentifikasi dibeberapa tempat antara Tinobu, dan soropia, utara kendari; contohnya pergeseran mengiri 2 Km sungai Andonohu (selatan Tinobu). Jarak pergeseran, yang membesar semakin besar dengan sesar yang bersangkutan, merupakan tanda sesar geser (silvester, 1988). Pergeseran Mengiri sepanjang Formasi Meluhu yang berada ditengah lengan tenggara Sulawesi.
            Interprestasi citra foto udara disekitar Tinobu menunjukan penyebaran batuan campur-aduk Toreo. Kepingan batuan yang berasal dari Formasi Meluhu, Formasi Tampakura, dan ofiolit, dijumpai sebagai bodin dalam batuan campur-aduk itu. Analisis stereografi orientasi bodin, yang diukur pada tiga lokasi, menunjukan keberagaman azimuth rata-rata/plunge: 30o 44o, 356,3o/49o, dan 208,7o/21o.
            Adanya mata air panas di Desa Toreo, sebelah tenggara Tinobu serta pergeseran pada bangunan dinding rumah dan jalan sepanjang sesar ini menunjukan bahwa sistem sesar Lawanopu masih aktif sampai sekarang.
 Lengan Sulawesi tenggara juga merupakan kawasan pertemuan lempeng, yakni lempeng benua yang berasal dari Australia dan lempeng samudra dari Pasifik. Kepingan benua di Lengan Tenggara Sulawesi dinamai Mintakat Benua Sulawesi Tenggara (South East Sulawesi Continental Terrane) dan Mintakat Matarambeo oleh Surono (1944). Kedua lempeng dari jenis yang berbeda ini bertabrakan dan kemudian ditindih oleh endapan Molasa Sulawesi. Bahasan selanjutnya akan mengikuti pola sebelum tarbrakan dan setelah tabrakan tersebut yakni :
1.                   Kepingan Benua
2.                   Kompleks Ofiolit
3.                   Molasa Sulawesi
Sebagai akibat subduksi dan tumbukan lempeng pada Oligosen Akhir-Miosen Awal, kompleks ofiolit tersesar–naikkan ke atas mintakat benua.
Molasa sulawesi, yang terdiri atas batuan sedimen klastik dan karbonat, terendapkan selama akhir dan sesudah tumbukan, sehingga, molasa ini menindih takselaras Mintakat Benua Sulawesi Tenggara dan Kompleks Ofiolit tersebut. Pada akhir kenomikum lengan ini di koyak oleh Sesar Lawanopo dan beberapa pasangannya, termasuk Sesar Kolaka.













BAB III
METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN
3.1.  Metode Penelitian
            Adapun metode yang di gunakan pada field trip Genesa Bahan Galian kali ini yaitu :
Observasi langsung dilapangan (Teknik pengumpulan data dengan observasi).
            Teknik observasi merupakan metode pengumpulan data dengan mengamati langsung dilapangan. Proses ini berlangsung dengan pengamatan yang meliputi melihat, merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian. Observasi bisa dikatakan merupakan kegiatan yang meliputi pencatatan  secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, obyek-obyek yang dilihat dan hal hal lain diperlukan dalam mendukung penelitin yang sedang dilakukan. Pada tahap awal observasi dilakukan secara umum, peneliti mengumpulkan data atau informasi sebannyak mungkin. Tahap selanjutnya peneliti harus melakukan observasi yang terpokus, yaitu mulai menyempitkan data atau informasi yang diperlukan sehingga peneliti dapat menentukan pola-pola perilaku dan hubungan yang terus menerus terjadi. Jika hal itu sudah diketemukan, maka peneliti dapat menemukan tema-tema yang akan diteliti.
3.2.  Tahapan Pengambilan Data di Lapangan
Adapun tahapan yang di gunakan dalam pengambilan data di lapangan yaitu :
1.       Tahapan menyampling yaitu tahapan mengambil sampel  di lapangan dengan menggunakan palu geologi, selanjutnya melakukan pengukuran strike dan dip serta menentukan arah penyebaran batuanya dengan melihat arah strike dan dip yang di ukur di setiap stasiun. Setelah itu, memplot arah penggambaran dengan menggunakan kompas geologi. Setelah itu mengukur kedudukan singkapan dengan menggunakan GPS.
2.       Tahapan selanjutnya sampel yang di dapat di masukan dalam kantong sampel dan di tulis perstasiun. Setelah itu, sampel yang di dapat di identifikasi  bedasarkan jenis batuanya. Tahapan pengidentifikasianya yaitu :
                    I.                        Data singkapan berupa pengukuran titik koordinat, arah penyebaran, insitu, dan hubunganya dengan batuan sekitarnya
                  II.                        Data litologi berupa jenis batuan warna lapuk, warna segar, tekstur, struktur serta komposisi mineral dan nama batuan.
                III.                        Data geomorfologi berupa relief, tipe morfologi, tingkat pelapukan, sungai, soil, tata guna lahan dan stadia daerah
                IV.                        Data struktur berupa lapisan, lipatan foliasi, kekar dan sesar.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.  Hasil Deskripsi Sampel
            Adapun hasil deskripsi sampel pada field trip Genesa Bahan Galian kali ini yaitu:
Gambar 4.1 : Singkapan Batugamping kristalin

Stasiun I di jumpai dengan jenis batuan sedimen dengan data singkapan yang memiliki titik koordinat S 030,50’,01,2’’ dan E 1220,25’49,8’’ dengan proses pelapukannya yang secara insitu dan memiliki dimensi (2×2 m) dan data litologinya jenis batuan sedimen yang memiliki warna segar hitam serta warna lapukya abu-abu dengan tekstur non klastik serta meiliki struktur kristalin dengan komposisi mineral kuarsa dan kalsit. Nama batuan ini yaitu Batugamping Kristalin.

Gambar 4.2 : Singkapan Batu Gneis

Singkapan pada stasiun II di jumpai jenis batuan metamorf pada titik koordinat  S 030,50’ 06,63’’ dan E 1220 25’47,5’’, yang memiliki warna segar abu-abu kehijauan dengan warna lapuk coklat. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik dengan jenis granoblastik, dan memiliki struktur non foliasi. Batuan ini tersusun atas mineral-mineral seperti biotit, kuarsa dan plagioklas. Dari identifikasi di atas nama batuan ini yaitu Gneis.
Gambar 4.3 : Singkapan Batu Gneis

Distasiun III di jumpai jenis batuan metamorf pada kordinat S 050,20,6,63’’ dan E 1220, 75’,33,9’’. Batuan ini memiliki warna segar hitam keabu-abuan dan warna lapuknya coklat, tekstur dari batuan ini yaitu kristaloblastik (Granoblastik) srta memiliki struktur foliasi (gneistosa). Batuan ini tersusun atas mineral-mineral piroksin, kuarsa, hornblende dan plagioklas. Dari identifikasi di atas nama batuan ini yaitu Gneiss

Gambar 4.4 : Singkapan Batu Gneiss

Stasiun IV di temukan singkapan dengan jenis batuan metamorf pada titik koordinat S 030,50’2,1’’ dan E 1220 26’01,8’’. Batuan ini memiliki warna segar abu-abu kehijaun dan warna lapuknya yaitu coklat. Batuan ini memiliki tekstur kristaloblastik (granoblastik) dengan struktur foliasi (gnestosa), batuan ini memiliki komposisi mineral seperti piroksin, biotit, kuarsa dan plagioklas. Dari identifikasi sifat fisik batuan maka dapat ditentukan nama batuanya yaitu Gneiss

Gambar 4.5 : Singkapan BatuanPeridotit

       Stasiun V di jumpai singkapan batuan dengan jenis batuan beku yang terletak pada titik koordinat S 03050’ 14,0’’ dan E 1220 65’15,8’’. Batuan ini memiliki warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuknya yaitu kuning kecoklatan. Batuan ini memiliki tekstur kristalinitas holokristalin dengan granularitas faneritik dan memiliki febrik dengan bentuk subhedral serta relasi yang equigranular, dengan struktur masif Batuan ini memiliki komposisi mineral piroksin, kuarsa, plagioklas,bitit dan horblende. Dari sifat fisik batuan yang telah diketahui maka dapat di tentukan nama batuannya yaitu Peridotit

Gambar 4.6 : Singkapan Batuan Peridotit

       Stasiun VI di jumpai jenis batuan beku dengan titik koordinat S 030,50’,04,5’’ dan E 1220 26’,16,6’’. Batuan ini memiliki warna segar abu-abu kehijauan dengan warna lapuk coklat denga tekstur kristalinitas holokrastalin, granularitas faneritik, febrik dengan bentuk subhedral denga relasi equigranular. Batuan ini memiliki komposisi mineral seperti biotit, kuarsa dan horblende dengan struktur masif. Berdasarkan hasil identifikasi batuan nama batuan ini yaitu Peridotit
        Stasiun VII di jumpai dengan jenis endapan laterit sparolot denga limonit, dimana limonit memiliki komposisi mineral seperti hematit (domonan), silikia, giotit dan kromit. Pada endapan saprolit yang memiliki komposisi mineral Hematit (sedikit), silika, Giotit (dominan) dan kromit.
4.2. Pembahasan
Hasil identifikasi sampel yang di lakukan pada stasiun I dengan jenis batuan sedimen yang memiliki warna segar hitam dan warna lapuknya yaitu abu-abu dengan tekstur non klastik karena dapat bereaksi dengan HCl serta tanpa melalui proses transportasi dan hanya mengalami pengendapan yang secara insitu. Batuan ini memiliki struktur kristalin karena pada tubuh batuan tersusun dari beberapa mineral. Batuan ini memiliki komposisi mineral kuarsa dan kalsit. Berdasarkan hasil identifikasi di atas nama batuan ini yaitu batugamping kristalin.
Identifikasi sampel pada stasiun II dengan jenis batuan metamorf yang memiliki warna lapuk coklat dan warna segar abu-abu kehijauan dengan tekstur kristaloblasti yakni sudah tidak memperlihatkan batuan asalnya dengan golongan granoblasti dimana ukuran butirya yang seragam. Batuan ini memiliki struktur foliasi karena terdapatnya penjajaran mineral pada tubuh abatuan ini, dengan golongan gneistosa yakni terdapat mineral mika dan mineral yang granular tetapi mineral pipihnya tidak menerus. Komposisi mineral dari batuan ini yaitu biotit, kuarsa, dan plagioklas.
Identifikasi sampel pada batuan stasiun III dengan dengan jenis batuan metamorf memiliki warna segar  abu-abu kehitaman dan warna lapuknya yaitu coklat yang memiliki tekstur Kristaloblastik yakni pada batuan ini tidak sama sekali memperlihatkan batuan asalnya dengan  golongan granoblastik yakni dimana ukuran butir pada batuan ini yaitu seragam dengan struktur foliasi yakni terdapatnya penjejeran mineral pada tubuh batuan ini dengan golongan gneistosa yakni pada batuan ini terdapat mineral mika dan granular tetapi orientasi mineral pipihnya tidak menerus atau terputus.
 Identifikasi sampel pada batuan stasiun IV dengan dengan jenis batuan metamorf memiliki warna segar  abu-abu kehijauan dan warna lapuknya yaitu coklat yang memiliki tekstur Kristaloblastik yakni pada batuan ini tidak sama sekali memperlihatkan batuan asalnya dengan  golongan granoblastik yakni dimana ukuran butir pada batuan ini yaitu seragam dengan struktur foliasi yakni terdapatnya penjejeran mineral pada tubuh batuan ini dengan golongan gneistosa yakni pada batuan ini terdapat mineral mika dan granular tetapi orientasi mineral pipihnya tidak menerus atau terputus.
Identifikasi sampel yang di jumpai pada stasiun V dengan jenis batuan beku yang memiliki warna segar abu-abu kehijauan dan memiliki warna lapuk yaitu kuning kecoklatan. Batuan ini memiliki tekstur kristalinitas dimana kristalinitas itu sendiri yaitu keadaan proporsi antara masa kristal dan masa gelas dalam batuan dengan golongan holokristalin yakni batuan ini tersusun oleh kebanyakan masa kristal dan masa dasar yang sedikit, dengan granularitas dimana granularitas yaitu ukuran butir kristal batuan beku yang tergolong faneritik semua masa kristalnya dapat dilihat dengan mata telanjang secara langsung. Batuan ini memiliki febrik dimana febrik itu sendiri yaitu hubungan antar butir penyusun batuan, dengan bentuk subhedral yakni batuan ini tersusun dari bentuk kristal dari butiran mineral di batasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna, batuan ini termasuk dalam relasi equigranular yakni batuan ini memiliki ukuran butir yang seragam. Batuan ini memiliki struktur masif yakni tidak menunjukan adanya batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya. Jenis batuan ini memiliki komposisi mineral piroksin yang memiliki warna hitam mengkilat dengan bentuk mineral memipih, kuarsa yang berwarna putih dengan bentuk mineral prismatik, plagioklas dengan warna putih tulang dengan bentuk mineral prismatik, biotit dengan warna hitam, dengan bentuk membutir, dan horblende yang berwarna hitan dengan bentuk mineral prismatik panjang. Berdasarkan hasil identifikasi diatas nama batuan ini yaitu peridotit
Identifikasi sampel yang di jumpai pada stasiun VI dengan jenis batuan beku yang memilik warna segar abu-abu kehijauan dan memilik warna lapuk yaitu coklat. Batuan ini memiliki tekstur kristalinitas dimana kristalinitas itu sendiri yaitu keadaan proporsi antara masa kristal dan masa gelas dalam batuan dengan golongan holokristalin yakni batuan ini tersusun oleh kebanyakan masa kristal dan masa dasar yang sedikit, dengan granularitas dimana granularitas yaitu ukuran butir kristal batuan beku yang tergolong faneritik semua masa kristalnya dapat dilihat dengan mata telanjang secara langsung. Batuan ini memiliki febrik dimana febrik itu sendiri yaitu hubungan antar butir penyusun batuan, dengan bentuk subhedral yakni batuan ini tersusun dari bentuk kristal dari butiran mineral di batasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna, batuan ini termasuk dalam relasi equigranular yakni batuan ini memiliki ukuran butir yang seragam. Jenis batuan ini memiliki komposisi mineral piroksin yang memiliki warna hitam mengkilat dengan bentuk mineral memipih, kuarsa yang berwarna putih dengan bentuk mineral prismatik, plagioklas dengan warna putih tulang dengan bentuk mineral prismatik, biotit dengan warna hitam, dengan bentuk membutir, dan hornblende yang berwarna hitam dengan bentuk mineral prismatik panjang. Berdasarkan hasil identifikasi diatas nama batuan ini yaitu peridotit.
Distasiun VII diambil  sampel saprolit dan limonit. Kedua sampel tersebut di suplit sehingga didapatkan sampel yang lebih halus. Cara menyuplit itu sendiri diawali dengan menghamparkan sampel diatas plastik atau karung lalu dibagi menjadi empat bagian. Dipilih dan dibuang bagian yang paling banyak material kasarnya secara menyilang. Cara ini dilakukan sebanyak dua kali. Sampel hasil suplitan dimasukkan didalam kantung sampel dan akan diidentifikasi lagi kandungan mineralnya.
Dari identifikasi secara cerat pada sampel, maka dapat dilihat pada sampel limonit mengandung mineral primer hematit (Fe3O2) dan mineral sekunder silika dan cromit. Adapun sampel saprolit mengandung mineral primer guetit (Fe(OH)2) dan mineral sekunder silika dan kromit serta miineral tersier hematit.






























BAB V
GENESA PEMBENTUKAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH PENELITIAN
Pembentukan endapan nikel laterit di daerah penelitian di pengaruhi oleh ofiolit. Ofiolit merupakan kompleks batuan dengan berbagai karakteristik dari layer ultramafik, dengan ketebalan dari beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer bersusun atau berlapis dengan batuan gabro dan batuan dolerite, dan pada bagian atasnya tersusun oleh pillow lava dan breksi, sering berasosiasi dengan batuan sediment pelagic (Ringwood, 1975). Sedangkan menurut Hutchison (1983), ofiolit merupakan kumpulan khusus dari batuan mafik-ultramafik dengan batuan beku sedikit kaya asam sodium dan khas berasosiasi dengan batuan sediment laut dalam.
Ofiolit diinterprestasikan sebagai kerak samudera dan batuan tektonik mantel bagian atas dan akhirnya membentuk daratan (Penrose, 1972; coleman 1977 dalam Clague dan Straley, 1977). Menurut Hutchison (1983), bahwa susunan ideal ofiolit terdiri dari rangkaian beberapa karakteristik batuan. Pada perkembangan lengkap ofiolit, tipe batuannya tersusun dari bawah ke atas. Yaitu :
a.       Kompleks ultramafik, terdiri atas harsburgit, lerzolit dan dunit, biasanya dengan batuan metamorfik akibat tektonik (umumnya serpetinit).
b.       Kompleks gabro, biasanya membentuk layer – layer dengan tekstur kumulus, berisi peridotit kumulus dan piroksenit dan lebih sedikit terubah dibandingkan dengan kompleks ultramafik.
c.       Kompleks dike, terdiri atas dike diabas membentuk zona pemisah pad dasar palgiogranit samapi gabro dan saling bertampalan dengan ekstrusif lava bantal. (kompleks dike tidak selalu hadir).
d.       Kompleks vulkanik mafik, umumnya terdiri dari pillow lava (lava bantal).
e.       Pada bagian atas assemblage (kumpulan batuan) tersebut, kemudian berasosiasi dengan batuan sediment pelagis yang secara khas meliputi fasies laut dalam seperti rijang, serpih dan batugamping mikrit.
Batuan ultramfik merupakan batuan yang kaya mineral mafik (mineral ferromagnesia) dengan komposisi utama batuannya adalah mineral olivine, piroksen, hornblende, mika dan biotit, sehingga batuan ultramafik memilki indeks warna >79% dan sebagian besar berasal dari plutonik (Waheed 2002).
Proses pembentukan komples ofiolit pada daerah penelitian menjadikan batuan ultrabasa seperti peridotit dan dunit terangkat keatas sehingga membentuk suatu bentang lahan. Dari proses yang dipengaruhi cuaca dan iklim, maka mineral-mineral yang terkandung pada batuan ultrabasa tersebut akan mengalami leaching, yaitu tercucinya mineral-mineral tersebut oleh air yang menyerap kedalam tanah terutama mineral-mineral yang mudah larut. Dari proses inilah,unsure nikel sebagai salah satu unsure yang memiliki massa yang berat, akan turun kebawah sehingga membentuk lapisan limonit dan samprolit yang dapat dilihat pada area pertambangan laterit nikel di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara.






















BAB VI
PENUTUP
6.1               Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil pembahsan laporan ini adalah sebagai berikut
-          Endapan laterit yang terdapat di kecamatan Motui kabupaten  konawe utara dipengaruhi oleh ofiolit batuan beku ultrabasa. Batuan tersebut mengalami leaching sehingga mineral-mineral yang ada pada batuan yang mengandung unsur Ni akan terendapakan dibawah unsur lain. Akhirnya terbentuklah lapisan limonit dan saprolit seperti yang terlihat di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara.
-          Dari kegiatan menyuplit sampel saprolit dan limonit, dan deskripsi cerat pada sampel tersebut, maka  kandungan mineral pada saprolit adalah Hematit sebagai mineral utama, silica, dan kromit sebagai mineral sekunder. Sedangkan kandungan mineral geotit, silica, kromit dan hematite sebagai mineral tersier.

6.2               Saran
Saran kami sebagai praktikan salah satunya adalah dalam hal penggunaan GPS dalam field trip sebaiknya digunakan juga oleh praktikan, tidak hanya digunakan oleh asisten. Mengingat, masih banyak praktikan yang belum paham menggunakan GPS. Selain itu, kami menyarankan kepada para pembaca agar mencari informasi yang lebih detail terkait dengan judul laporan ini. Mengingat keterbatasan kami sebagai praktikan yang awam dalam hal praktikum Genesa Bahan Galian. Sekian dan terimakasih.
























LAMPIRAN






Acara                           : Field Trip Genesa Bahan Galian         Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal                : Sabtu / 29 November 2014                  No. Stasiun      : 1
Lokasi Pengamatan      : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data Singkapan
Dijumpai singkapan jenis batuan sedimen yang memiliki titik koordinat S 030 50’ 01,2” , E 1220 25’ 49,8” secara insitu dengan dimensi (2×2 m).
Data Litologi
Dijumpai singkapan jenis batuan sedimen dengan warna segar hitam dan warna lapuk abu-abu. Teksturnya non klastik  serta strukturnya tergolong kristalin. Adapaun komposisi mineralnya adalah kuarsa dan kalsit. Nama batuannya adalah batugamping kristalin.
Data Geomorfologi
Dijumpai jenis batuan sedimen dengan jenis refief curam, tipe morfomogi perbukitan, tingkat pelapukan rendah, jenis tanah residual, tata guna lahan sebagai pemukiman dan perkebunan,vegeasi pohon jati.


Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 2
Lokasi Pengamatan : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data Singkapan
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan titik koordinat S 030 50’ 0,66” , E 1220 25’ 47,5” dengan dimensi 3×15 m dan secara insitu.
Data Litologi
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuk coklat. Tekstur ksristaloblastik (granoblastik) dan struktur non folisasi. Komposisi mineralnya adalah biotit, kuarsa, dan plagioklas. Nama batuannya adalah gneis.
Data geomorfologi        
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan relief sedang tipemorfologi perbukitan, tingkat pelapukan tinggi, tata guna lahan sebagai pemukiman dan jalanan, tebal soil ±1 meter.



Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 3
Lokasi Pengamatan : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data singkapan
Dijumpai singkapan jenis metamorf dengan titik koordinat S 030 50’ 20,0” , E 1220 75’ 33,9”. Dimensi 7×7 m insitu, dengan arah penyebaran timur menenggara kebarat-barat laut.
Data litologi
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar hitam keabu-abuan dengan warna lapuk coklat. Tekstur ksristaloblastik (granoblastik) dan struktur folisasi. Komposisi mineralnya adalah piroksin,kuarsa,horblende, plagio. Nama batuannya adalah gneis.
Data Geomorfologi        
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan relief rendah tipe morfologi perdataran marine, soil bersifat insitu , residual ± 30 cm. Dimana struktur berfoliasi (N 1210 E)



Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 4
Lokasi Pengamatan : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data Singkapan
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan titik koordinat S 030 50’ 2,1” , E 1220 26’ 10,8” secara insitu dengan dimensi 5×10 meter dengan arah penyebaran tenggara ke barat daya.
Data Litologi
Dijumpai singkapan jenis batuan metamorf dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuk coklat. Tekstur kristaloblastik (granoblastik) dan struktur foliasi (gneistosa). Komposisi mineralnya adalah piroksen, kuarsa, biotit, plagioklas. Nama batuannya adalah gneiss.
Data geomorfologi
Memiliki relief curam dengan ketebalan soil ± 1 m. Tingkat pelapukan tinggi dan tata guna lahan sebagai pemukiman.
Data stuktur
Berfoliasi (N 1240 E/ 670)

Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 5
Lokasi Pengamatan : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data Singkapan
Dijumpai singkapan jenis batuan beku dengan titik koordinat S 030 50’ 14,0” , E 1220 26’ 15,8” dengan dimensi 3×15 m. Terbentuk secara insitu.
Data litologi
Dijumpai jenis batuan beku dengan warna lapuk kuning kecoklatan dan warna segar abu-abu kehijauan. Tekstur dari batuan tersebut adalah kristalinitas holokriatalin, granularitas faneritik, relasi equigranular, bentuk mineral euhedral. Komposisi mineral piroksen, kuasa, plagioklas, biotiti, hornblende. Struktur batuan masif. Nama batuan adalah peridotit.
Data geomorfologi
Jenis relief curam, tipe morfologi perbukitan memiliki tingkat pelapukan tinggi serta tata guna lahan perkebunan. Jenis soil residual dengan ketebalan ± 30 cm.


Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 6
Lokasi Pengamatan : Desa Matandahi Kecamatan Motui








Data Singkapan
Dijumpai singkapan jenis batuan beku dengan titik koordinat S 030 50’ 04,5” , E 1220 26’ 16,6” dengan dimensi 2×10 m . terbentuk secara insitu dengan hubungan yang selaras.
Data litologi
Dijumpai singkapan jenis batuan beku dengan warna segar abu-abu kehijauan dan warna lapuk coklat. Kristalinitas holokristalis, granularitasnya faneritik, bentuk mineral suhedra, dengan relasi inequigranular. Komposisi mineralnya adalah piroksen, kuarsa, hornblende. Nama batuannya adalah peridotit.
Data  geomorfologi
Dijumpai jenis batuan beku dengan relief curam, tipe morfologi perbukitan, jenis pelapukan tinggi, soil residual, memiliki tata guna lahan sebagai daerah tambang nikel dan perkebunan.


Acara               : Field Trip Genesa Bahan Galian                     Cuaca              : Cerah
Hari/Tanggal    : Sabtu / 29 November 2014                              No. Stasiun      : 7
Lokasi Pengamatan : Desa Bende Kecamatan Motui








Data Sampel
Sampel I Limonit
Komposisi mineral yang kaya Hematit, serta mineral sekunder silika dan geotiti dan kromit.
Sampel II Saprolit
Komposisi mineral yang kaya akan Geotiti, serta mineral sekunder silika dan kromit, dan mineral tersier hematit.